News

YAA LAL WATHAN BERKUMANDANG DI KAMPUS YPUP MAKASSAR

AMURE_STIE YPUP
Komisaris PT Pupuk Petrokimia Gresik, Andi Muawiyah Ramli saat menjadi narasumber Seminar Nasional Kebangsaan di STIE YPUP

MAKASSAR-LPPM STIE YPUP menggelar Seminar Nasional Kebangsaan pada hari Sabtu (7/10/2017) di Balai Bahagia YPUP. Kegiatan yang mengambil tema “Membangkitkan Spirit Kebangsaan dari Kampus” bertujuan untuk menangkal radikalisme dan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

Asrul Rahim, Ketua YPUP, dalam sambutannya mengatakan seminar yang dilaksanakan ini merupakan salah satu upaya dalam membangkitkan wawasan dan semangat kebangsaan di kalangan civitas perguruan tinggi yang mulai memudar. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber diantaranya Andi Muawiyah Ramli, tokoh pergerakan nasional yang berasal dari Sulsel, Arfin Hamid, Guru Besar Ilmu Hukum dari Universitas Hasanuddin, serta Firdaus Muhammad, akademisi dari UIN Alauddin.

Seminar nasional kebangsaan dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari berbagai latar belakang, seperti: dosen, mahasiswa, pengurus organisasi massa, masyarakat, media massa, LSM, bahkan staf ahli DPR RI dari Jakarta. Kami memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan seperti ini, karena membuka wawasan kami untuk lebih mawas diri dan lebih meneguhkan ideologi Pancasila, ungkap Arfah, salah satu peserta kegiatan.

Mahasiswa sebagai aktivis, hendaknya juga mempunyai kemampuan di bidang akademis. Jangan hanya mampu melontarkan kritik, namun tidak diiringi dengan prestasi akademis, demikian diungkapkan Andi Muawiyah Ramli, yang mendapat amanah dari Presiden melalui Menteri BUMN untuk menduduki jabatan Komisaris PT.Pupuk Petrokimia Gresik. Aktivis mahasiswa juga harus memiliki prestasi dalam menulis, bukan hanya pandai berorasi saja. Saya sudah membuktikannya dengan tulisan berupa buku dari skripsi saya yang sudah dicetak berkali-kali.

Media sosial di era saat ini memiliki peran ganda, yaitu dapat menjadi perekat persatuan dan juga dapat memecah belah persatuan, ujar Firdaus Muhammad. Pakar komunikasi politik dari UIN Alauddin yang pernah mendapat prestasi lulusan S3 terbaik dari UIN Jakarta tahun 2008 menambahkan mahasiswa harus bijak dalam ber-sosmed, jangan mudah meneruskan berita atau informasi dari medsos yang mengandung unsur hoaks, harus disaring dulu kebenarannya.

Guru Besar Universitas Hasanuddin, Arfin Hamid, mengungkapkan bahwa ada Perguruan Tinggi di Sulsel yang masuk kategori rawan, karena adanya indikasi kegiatan dengan sasaran mahasiswa dapat mengubah pemikiran maupun perilakunya. Perguruan Tinggi harus memiliki deteksi dini terhadap kegiatan civitas kampus yang mengarah pada unsur radikalisme dan ideologisasi yang menyimpang dari Pancasila, lanjut Arfin Hamid yang juga menjabat Sekretaris Umum Nahdlatul Ulama Wilayah Sulawesi Selatan.

Dalam kegiatan Seminar Nasional Kebangsaan tersebut, berkumandang lagu Yaa Lal Wathan setelah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Yaa Lal Wathan adalah lagu patriotis yang diciptakan oleh Pahlawan Nasional KH. Abdul Wahab Chasbullah tahun 1934 yang terbukti membumikan semangat cinta tanah air dan nasionalisme kuat para pejuang kala itu. Kita jangan pernah melupakan sejarah bangsa. Namun, juga jangan pernah menghilangkan jasa ulama yang memiliki kontribusi besar terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa ini, demikian ungkap Harry Yulianto, Ketua Panitia Pelaksana. Kegiatan ini dirangkaikan dengan Deklarasi Manifesto Kebangsaan, yang bertujuan untuk menggugah kembali spirit kebangsaan civitas kampus, dimulai dari kampus YPUP, khususnya Makassar, yang notabene merupakan etalase kecil Indonesia, lanjut Harry, Ketua LPPM STIE YPUP.

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top