Jalur9.com – “Insya Allah setelah seminggu reuni di clarion PMII punya Wisma” demikian pernyataan Mukhtar Tahir salah satu tim konsultan pembangunan Wisma di grup whatsap IKAPMII Sulsel.

Ide Pembangunan Wisma IKAPMII mengemuka pada Reuni Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII) di Hotel Clarion 10 Juli lalu. Sumber pembiayaan dari Wisma bersumber dari dana awal dari hasil lelang yang terhimpun kurang lebih 1 milyar. Kemudian dana ini disebut wakaf oleh Prof Nasaruddin Umar.

Dilansir dari republika.co,id, Prof Nasaruddin Umar, mengakui wakaf uang relatif baru dalam dunia Islam. ”Memang ini (wakaf uang) relatif baru di dunia perbendaharaan fikih Indonesia, karena mayoritas mazhab yang berlaku di Indonesia adalah Syafi’I”. Ujar Rektor PTIQ itu menegaskan.

Dalam Mazhab Syafi’I, kata dia, tidak ditemukan //qaul// (pendapat) yang memberikan pembenaran terhadap wakaf uang. Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menambahkan, satu-satunya //qaul// yang bisa ditemukan dalam kitab fikih ialah //qaul// Abu Hanifah yang menganggap wakaf uang itu dimungkinkan.

”Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Saudi Arabia sepakat memberikan legitimasi wakaf uang. Ternyata, kesepakatan ini disambut negara-negara Islam sangat positif,” jelasnya. Wakaf uang, menurutnya, memungkinkan setiap Muslim untuk berwakaf.

”Potensi wakaf uang di Indonesia sangat besar bisa melebihi dari potensi zakat yang nilainya mencapai Rp 19,3 triliun. Karena seseorang bisa mewakafkan uangnya, tanah maupun kebun atau sawahnya,” Tambah Prof Nasaruddin Umar

Untuk itu, sudah saatnya semua pihak bekerja sama membangun kesadaran umat Islam untuk gemar berwakaf baik dalam bentuk uang, tanah maupun benda lainnya. Karena, wakaf itu sifatnya permanen, tidak seperti zakat yang harus habis dibagikan kepada para mustahiknya.

”Wakaf justru harus tetap pokoknya dan bahkan kalau bisa bertambah. Yang dapat dimanfaatkan adalah hasil dari pengelolaan wakaf,” paparnya. Indonesia bisa meniru negara Islam yang telah berhasil mengelola dana wakaf sehingga memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat.

Prof Nasaruddin dan Kiai ma’ruf mengajak para pegawai negeri, pegawai swasta dan pekerja yang memiliki pendapatan di atas rata-rata, untuk mewakafkan uangnya. Jika dikelola dengan professional dan transparan, dana wakaf uang itu akan mampu memartabatkan umat yang masih terjerat dalam kubangan kemiskinan dan ketertinggalan.