Artikel

Utopia Negara Khilafah

jalur9-1

Penolakan terhadap negara khilafah di bangsa ini, nampaknya tak hanya dalam bentuk wacana, tapi juga dalam bentuk gerakan. Mungkin kita masih ingat sebahagian kelompok yang mengatasnamakan diri Gerakan Pemuda (GP) Ansor melakukan aksi pencopotan atribut khilafah yang terpangpan di ruang publik, dan gerakan ini serentak dilakukan di seluruh Indonesia.

Gerakan tersebut bermula saat ketua umum GP. Ansor pusat H. Yaqut Cholil Qoumas (Gus Tutut) mengintruksikan kepada seluruh kader dan Pengurus GP. Ansor untuk melakukan pencopotan atribut berbau khilafah karena dianggap bertentangan dengan Pancasila sebagai ideologi negara. Menariknya, gerakan tersebut mendapat persetujuan dari aparat keamanan (TNI dan Polri)

Tentunya gerakan ini patutut untuk diacungi jempol, sebab selain membantu aparat keamanaan, juga gerakan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk merawat keutuhan NKRI. Sebab jika kelompok pro khilafah ini terus diberi ruang, maka kelompok ini akan semakin menjadi-jadi dan terus memperluas gerakannya.

Khilafah Secara Teologis

Menurut Abdul Muqsid Ghasali, khilafah secara teologis sangatlah rapuh, karena dalam al-Quran dan al-Hadist sebagai sumber utama rujukan ajaran Islam tidak ditemukan penjelasan secara mendetail tetang bagaimana sesungguhnya konsep khilafah itu dijalankan. Jika berkaca pada piagam Madinah, Nabi Muhammad Saw tidak meletakkan syariah sebagai perwujudan sebuah negara. Menurutnya, Negara Madinah lahir sebelum konsep negara bangsa yang dibatasi oleh wilayah teritorial.

Olehnya itu, dalam konteks NKRI, khilafah menjadi tidak relevan untuk diterapkan, selain karena tidak mudahnya menyatukan umat Islam dari berbagai ragam paham, kelompok dan aliran, juga konteks kehidupan Indonesia sangat plural dan multikultur. Keanekaragaman tersebut tidak hanya dalam bentuk budaya, ras, ideologi tapi juga akidah.

“Kalau pun khilafah akan berkembang, mungkin ia hanya bisa berkembang di negara-negara yang menganut sistem demokrasi. Olehnya itu, kelompok pengusung khilafah, wajib untuk berterima kasih kepada sistem demokrasi. Sebab hanya sistem demokrasilah yang membolehkan kelompok yang berbeda untuk hidup bersama,” katanya.

Politisasi Agama

Jika salah satu alasan pendirian negara khilafah untuk menciptakan pemerintahan yang Islami, berkeadilan dan beradab, pertayaannya kemudian, dalam praktiknya seperti apa sistem pemerintahan itu? Dan bagaimana model keadilan itu ditegakkan? apakah keadilan dan sistem pemerintahan itu mutlak mengunakan Islam sebagai simbol?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu tidak mudah, butuh perdebatan yang cukup panjang. Telepas dari pertanyaan tersebut, beberapa kalangan menilai jika agama dijadikan sebagai sandaran politik, maka ada kekhawatiran tersediri yang bakal muncul, yaitu fenomena politisasi agama, dimana agama dan kekuasaan tak bisa lagi dibedakan.

Jika sebuah sistem atau keadilan tetap harus mengunakan Islam sebagai simbol, bukankah kearifan lokal yang ada di bangsa ini juga mengajarkan hal yang sama? terkait hal tersebut, menarik mengutip pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauzi yang mengatakan, dimana saja kamu menemukan keadilan, maka disitulah engkau melihat wajah Tuhan.

Jauh sebelum kehadiran agama-agama di bangsa ini, nilai-nilai keadilan telah menjadi praktik hidup masyarakat kita. Nilai keadilan tersebut lahir dari kontruksi kebudayaan yang kemudian dikenal dengan nama kearifan lokal, tanpa harus mengunakan embel-embel Islam. Misalnya keadilan sebagai bagian dari martabat kemanusiaan yang terpatri dalam nilai siri dan sipakatau untuk konteks Sulawesi Selatan.

Selain itu, tantanga negara khilafah dalam menjawab keanekaragaman paham juga harus klear,  jika NU dan Muhammadiyah yang menjadi Ormas terbesar di bangsa ini tidak sepakat dengan sistem negara khilafah, apakah kedudukan mereka lantas disebut sebagai kelompok kafir yang harus “dibumihaguskan”.

Jika demikian, maka kita tidak sedang mendirikan negara yang diridhoi oleh Allah, tapi mendirikan negara yang mengatasnamakan agama untuk berlaku tidak adil dan toleran terhadap perbedaan.

Redaksi Jalur9.com

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top