News

Usman Faqih: Kami Siap Secara Fisik dan Batin Jaga NKRI

Tarkan

Jalur9.com, Tarakan- Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Utara (Kaltara), Usman Faqih mengaku siap secara fisik dan batin menjaga NKRI dari rongrongan kelompok-kelompok ekstrimis.

“Kami siap secara pisik dan batin menjaga NKRI, ” katanya saat ditemui sejumlah wartawan di gedung Geraha KNPI Kota Tarakan, Rabu (4/5).

Tak hanya itu, pihaknya juga meminta agar pihak pers tetap konsisten menyampaikan berita-berita mendidik kepada masyarakat.

“Teman-teman pres harus tetap konsisten menyampaikan berita yang sehat kepada masyarakat. Meski kita tetap waspada, baik secara pisik maupun batin menjaga NKRI, namun kita tak ingin Kaltara ini siaga satu,” katanya lagi.

Lebih lanjut, Usman Faqih mengatakan, untuk kasus radikalisme-teroris, Kaltara masuk dalam 12 Provinsi zona merah. Beberapa kelompok teroris sudah pernah berkunjung ke Kota Tarakan, dan bahkan menurutnya sudah ada putra kelahiran Tarakan yang meninggal dunia di Syiriah karena ikut jihad.

“Selain itu, ada juga satu keluarga tertangkap di Surabaya karena ingin menyebrang ke Syiria,” jelasnya.

Sementara itu, di tempat yang sama tegah berlangsung dialog pelibatan dakwa kampus dan birorkrasi kampus dalam pencegahan terorisme. Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama antara Bandan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi  Pencegahan Terorisme (FKPT).

Di sesi kedua dialog yang melibatkan puluhan aktifis mahasiswa dan civitas akademi kampus ini menghadirkan Koordinator Jaringan GUSDURian Sulawesi, Suaib Amin Prawono dan Mukhtar Chairi alias Umar, alias Herman salah seorang eks-teroris sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, mantan anak didik Umar Patek ini menghimbau agar generasi muda berhati-hati dan tidak mudah terpengaruh oleh bujuk rayuan kelompok terorisme.

“Memaksakan kehendak atas dasar agama adalah kesalahan besar, karena selain merugikan diri sendiri, juga akan melukai dan merugikan orang lain,” katanya.

Lebih lanjut, ia menceritakan kisah hidupnya terlibat dalam kelompok teroris. Motif untuk berjihad berdasarkan panggilan nurani semakin menjadi saat ia di penjara.

“Di pejara saya satu kamar dengan Aman Abdurahman, dari dia saya belajar bahasa Arab dan ajaran-ajaran Islam. Karena musibah ini akhirnya skripsi saya tidak selesai,” kata pria yang mengaku masih status tahanan luar ini.

Dalam pemaparannya, ia juga membeberkan paham kelompok radikalis-teroris terhadap aparatur negara. Di mata mereka, aparatur negara itu kafir, dan kalau ada orang yang tidak ikut mengkafirkan negara maka orang tersebut juga diaggap kafir.

“Jangankan itu, tersenyum saja kepada sipir penjara, kita sudah tidak dianggap sebagai kelompok mereka. Dan semenjak ada ISIS kelompok di penjara pecah kongsi. Bahkan ada teman saya terpaksa berpisah dengan isterinya karena sudah terpengaruh dengan ISIS,” katanya lagi.

Sementara itu, Suaib Amin Prawono dalam pemaparannya menghimbau masyarakat Tarakan untuk senantiasa mengedepankan sikap damai, penuh kasih sayang dan tidak mudah mengkafirkan orang.

“Al Quran menegaskan kepada kita bahwasanya kita harus memuliakan anak cucu Adam, apapun agama, suku dan budayanya. Itulah salah satu makna dari Islam Rahmatan lil ‘Alamin,” katanya.

Lebih lanjut, Suaib menjelaskan, Islam rahmatan lilalamin cakupannya sangat luas, meliputi alam semesta dengan segala isinya. Sementara Islam sebagai ideologi hanya mencakup untuk satu kepentingan kelompok saja, dan bisa saja menapikan kelompok lain yang tidak seideologi.

“Menjadikan Islam sebagai ideologi hanya akan memperkecil ruang gerak Islam, serta mengkerdilkan nilai-nilai Islam itu sendiri, sebab apa bedanya Islam dengan ideologi sosialis-komunis, Pancasila dan kapitalisme,” katanya.

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top