News

Tak Banyak yang Tahu, Begini Sepak terjang Berdirinya NU di Sulsel.

nu

Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, selain Puang Ramma sebagai mursyid tarekat, beliau juga sebagai tokoh utama bersama ulama lainnya, mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan, ormas Islam terbesar secara kultur di daerah ini.

NU berkembang dan melebarkan sayapnya secara merata ke ber-bagai wilayah termasuk di Sulawesi Selatan, yang sebelumnya memang telah didirikan Rabithatul Ulama sebagai organisasi berkumpulnya ulama yang berpaham Aswajah.

Rabithatul Ulama yang disingkat RA, adalah ormas embrio kelahiran NU pertama kali di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dibentuk pada 8 April 1950 atas prakarsa K.H Ahmad Bone, K.H Muhammad Ramli, K.H. Jamaluddin Assegaf Puang Ramma, Andi Mappayukki, K. H. Saifuddin, Mansyur Daeng Limpo dan beberapa ulama sejawatnya.

K.H. Ahmad Bone, wafat 12 pebruari 1972 pada usia 102 tahun, yang juga dikenal sebagai “Kali Bone” (qadhi atau hakim agama di bekas Kerajaan Bone) berjuang bersama dengan Raja Bone Andi Mappanyukki yang pertama kali membentuk organisasi ulama yang sejalan dengan paham NU di wilayah kerajaannya pada tahun 1930-an.

K.H. Muhammad Ramli berjuang di daerah Luwu, bersama dengan Raja Luwu, Andi Djemma. Kiai nasionalis ini dikenal sebagai seorang Sukarnois di Palopo masa itu. Sementara para ulama Rabithatul Ulama lainnya yang ke-banyakan menetap di kota Makassar, sebelumnya berjuang di kampung-kampung kota, seperti di Bontoala, memperjuang-kan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.

Kepengurusan awal dipegang oleh K.H. Ahamd Bone sebagai ketua, sementara K.H. Muhammad Ramli sebagai wakilnya. Sekretaris dijabat oleh K.H Saifuddin, Qadhi Polewali, wakil sekretaris adalah K.H Jamaluddin Assegaf Puang Ramma sebagai Qadhi Gowa saat itu, dan H. Mansyur Daeng Limpo, mengetuai Bidang Pendidikan dan Dakwah.

Ulama lainnya yang bergabung dalam kepengurusan Rabithatul Ulama, di antaranya K.H Sayid Husain Saleh Assegaf (waktu itu menjabat sebagai Konsul NU Sulawesi Selatan), K.H. Paharu, K.H Muhammad Nuh, K.H Abdul Muin, K.H. Muhammad Said, K.H Abdur Razaq, K.H Abdur Rasyid, K.H Abdul Haq, K.H. Muhammad Saleh Assegaf, KH Abdurrahman Daeng Situju, dan K.H. Muhammad Asap.

Kantor Rabithatul Ulama, beralamat di rumah kediaman K.H. Ahmad Bone, bertempat di Jalan Diponegoro, Distrik Matjini Aijo, Makassar. Di jalan itu pula terdapat makam pahlawan nasional Pangeran Diponegoro.

Pengurus Rabithatul Ulama kemudian menfasilitasi ter-bentuknya Partai Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan pada tahun 1952 atas permintaan K.H Wahid Hasyim (waktu itu sebagai Menteri Agama dan Ketua PBNU). Semua pengurus dan anggota Rabithatul Ulama bergabung ke NU. Kecuali K.H. Muhammad Saleh Assegaf dan K.H. Abdul Razaq tetap bertahan masing-masing di Masyumi dan di PSII.

Demikian pula, ulama kharismatik K.H. Abddurrahman Ambo Dalle, pendiri DDI (Darud dakwah wal-Irsyad), yang sempat bertemu dengan K.H. Wahid Hasyim juga bertahan di PSII. Tapi semuanya tetap mendukung perjuangan NU dalam menegakkan Islam Ahlussunnah Waljamaah di tanah Bugis-Makassar.

Setelah ulama-ulama yang disebutkan tadi bergabung di NU, maka dengan sendirinya Rabithatul Ulama dinyatakan bubar, dan dibentuklah pengurus baru NU Sulawesi Selatan dengan struktur yang sama dengan Rabithatul Ulama yang disebutkan tadi.

Dalam kepengurusan NU tersebut, Puang Ramma sebagai wakil sekertaris dan diberi tugas khusus di Kabupaten Gowa untuk memberikan pertimbangan kepada pemerintah mengenai masalah-masalah keagamaan yang muncul di tengah masyarakat.

Di Kabupaten Gowa, Puang Ramma yang kapasitasnya sebagai qadhi, mendirikan pengajian dan majelis ta’lim bagi kaum nahdliyyin, dan membuka forum bahtsul masail, yang membahas masalah-masalah keagamaan yang lebih aktual. Selain itu, forum ini juga berfungsi sebagai wadah kaderisasi ulama NU dengan menekankan pada pembelajaran pengajian kitab kuning.

Struktur kepengurusan NU, pada awal terbentuknya mencerminkan konfigurasi sosial masyarakat Bugis-Makassar, dengan empat pilarnya, yakni to panrita (ulama), to sugi (pengusaha), to acca (cendekiawan), dan to warani (kaum bangsawan dan anak muda).

Keempat pilar ini dihimpun dalam jajaran pengurus dan karena kekuataan massa yang dimilikinya, Partai NU, menjadi kunci kemenangan NU di Sulawesi Selatan pada Pemilu tahun 1955. Mereka memberi kontribusi sekitar 12 persen bagi keseluruhan suara NU di tingkat nasional.

Puang Ramma dan K.H. Muhammad Ramli, kemudian terpilih mewakili NU di dewan Konstituante (1956-1959) di Bandung. Saat menjalankan tugasnya sebagai anggota dewan, K.H. Muhammad Ramli wafat pada 3 Februari 1958 di Bandung, dan dimakamkan di Pemakaman Arab, Bontoala, Makassar.

Sepeninggal ulama NU ini, Puang Ramma tetap di dewan dan menjalankan tugas sampai akhir periode, selanjutnya Puang Ramma mewakili NU di DPRD Sulawesi Selatan, dan sejak Muktamar NU ke-27 Situbondo, yang menetapkan bahwa NU kembali ke khittah 1926.

Puang Ramma, tidak lagi menjadi anggota dewan, namun tetap ber-konsentrasi pada pengkhidmatan NU, sampai akhirnya Puang Ramma dipercaya menjadi Rais Syuriah NU tahun 1977-1982, selanjutnya menjabat mustasyar PWNU Sulawesi Selatan sampai akhir hayatnya.

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top