News

Subhanallah, Ternyata Begini Rutinitas Puang Ramma Semasa Hidup

Allayarham+syekh+sayyid+djamaluddin+assegaf+puang+ramma+QSR

Sejak masa kecilnya, Puang Ramma dikenal orang yang sangat disiplin waktu. Setiap selesai magrib beliau mengaji dan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap bulannya. Rutinitas seperti ini telah menyatu dalam hidupnya baik semasa aktif sebagai qadhi, imam, guru, anggota legislatif, Rais Syuriah dan Mustasyar NU sampai menjadi mursyid tarekat.

Di selah-selah kesibukannya, dan dalam kondisi apapun, Puang Ramma selalu bangun tengah malam, sekitar jam 2.00 dini hari untuk melaksanakan salat tahajjud, dan di pagi hari sekitar jam 9.00 melaksanakan salat dhuha. Sudah menjadi komitmen pribadi beliau, bahwa tujuh macam salat menjadi kewajiban yang pantang untuk ditinggalkan, yaitu salat fardu lima kali sehari semalam, ditambah dua salat sunnat, yakni tahajjud dan dhuha sebagaimana yang disebutkan.

Salat tahajjud secara rutin dan dengan keikhlasan dalam melaksanakanya memiliki pengaruh yang sangat kuat pada diri Puang Ramma. Salat tahajjud tersebut, dijadikannya sebagai momen yang paling tepat dan wahana utama untuk berhubungan dengan Allah di saat umat manusia terlelap dalam tidurnya.

Beberapa kali Puang Ramma terjatuh dan tersungkur saat dan setelah salat tahajjud, tetapi dianggapnya sebagai obat, bahkan menurutnya sebagai penguat daya tahan tubuh. Itulah sebabnya ketika beliau terjatuh, tidak pernah merasakan sakit sedikitpun, tidak terluka, dan tidak pula mengeluh.

Menurutnya pula bahwa dengan salat tahajjud, seseorang terhindar dari berbagai penyakit, tidak mudah stres ketika menghadapi problematika kehidupan. Dengan salat tahajjud itu juga, dianggapnya sebagai sumber energi yang mengalir deras dalam relung-relung jiwa dan menjadi pelita hidup di kemudian hari.

Sedangkan salat dhuha menurut Puang Ramma, adalah sebagai wahana untuk memperbanyak rezki serta keberkahan hidup. Karena itu menurutnya, bagi yang rutinitas melaksana-kan salat dhuha secara khusyu dan ikhlas, tidak akan ditimpa kemiskinan dan kesusahan hidup, mereka senantiasa diberi kelapangan dalam berusaha dan kebahagiaan hidup.

Salat dhuha maupun tahajjud yang menjadi rutinitas Puang Ramma, masing-masing delapan rakaat, namun alokasi waktu yang digunakan dominan lebih banyak salat tahajjud, yakni rata-rata dua jam setiap malamnya, sedangkan salat dhuha sekitar satu jam.

Setiap setelah salat tahajjud, Puang Ramma tidak tidur lagi sampai terbitnya matahari. Beliau berzikir sampai masuk-nya waktu fajar dan bersiap menunaikan salat

Shubuh secara berjamaah, setelah itu beliau mengamalkan beberapa wirid yang menjadi amalam rutin tarekatnya, dan kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan Puang Ramma sampai hari tuanya setiap selesai salat Shubuh adalah jalan-jalan pagi untuk ber-silaturahim dengan tetangga dan masyarakat sekitar, sambil berolahraga ringan seperti lari-lari kecil, dan saat berada di depan rumah seringkali beliau menggunakan waktu untuk ma’raga, .

Setelah itu mandi dan mencuci pakaiannya sendiri, serta sejenak menggunakan waktu istrahat untuk kemudian menunggu waktu yang tepat melaksanakan salat dhuha.

Biasanya setelah salat dhuha, Puang Ramma duduk di ruang tengah rumah, terkadang pula teras rumah, membaca kitab dan disaat-saat demikian seringkali beliau didatangi tamu. Pada tahun 1950-1970-an, waktu itu beliau masih menetap di Jalan Anuang tetamunya yang sering datang di kalangan ulama antara lain K.H. Muhammad Ramli, dan K.H. Saifuddin, termasuk Buya Hamka jika ke Makassar pasti berkungjung ke rumah beliau.

Setelah pindah di Jl. Bicara Bicara tahun 1980-an tetamunya yang sering datang adalah K.H. Muhammad Nur, Habib Ali Ma’bud, K.H. Danial, K.H. Harun al-Rasyid, K.H. Hasyim Naqsyabandi, Dr.K.H. Mustafa Zuhri, dan tokoh lain yang sering mengunjungi beliau adalah Andi Mappayukki, belakangan di era 1990-an adalah H. Muhammad Jusuf Kalla selalu datang berdua dengan Aksa Mahmud.  

Sedangkan ulama generasi belakangan yang sering datang ke rumah beliau sampai wafatnya adalah K.H. Sanusi Baco, K.H. Abdurrahman B, K.H. Harisah. Dia antara tiga ulama yang disebutkan terakhir ini, K.H. Harisah yang juga murid Puang Ramma paling sering datang berkunjung, ber-silaturahim dan meminta tawsiahnya.

Pada siang harinya, setelah salat dhuhur Puang Ramma menggunakan waktu istrahat sampai memasuki salat ashar. Setelah itu, beliau kembali memanfaatkan waktunya untuk bersantai dengan keluarga dan kerabat, atau terkadang pula beliau keluar rihlah menikmati suasana kota Makassar dengan mengendarai motor besarnya, Harlay Devidson.

Begitu sekitar jam 17.00 sore kembali ke rumah dan berzikir menunggu masuknya waktu magrib, setelah itu membaca ayat Al-Qur’an (tadarrus) sampai Isya’, dan biasanya isterahat malam setelah menonton acara Dunia Dalam Berita di TVRI. Rutinitas yang tidak pernah ditinggalkannya sebelum isterahat malam adalah mattale, membaca kitab-kitab sebagai pengantar tidurnya.

Dalam keseharian Puang Ramma, terlihat penampilan-nya yang sangat sederhana namun berwibawa, style pakaian yang digunakan adalah sarung dan kemeja lengan panjang lengkap dengan sorbannya. Biasanya hanya menggunakan sarung saat masuk kamar kecil, dan tidak mengenakan sarung tersebut untuk salat.

Saat makan, beliau senantiasa memakai kopyah, beliau makan disaat lapar dan menyudahi sebelum keyang. Etika dan pola makan yang demikian ini, diterapkan pula kepada anak-anaknya.

Puang Ramma dikenal sangat ketat dalam mendidik anak-anaknya, dan menanamkan sikap kedisiplinan di dalam lingkungan keluarganya. Beliau mewajibkan salat berjamah dan makan bersama di antara keluarga.

Jika kedatangan tamu, beliau makan bersama tamunya tanpa membedakan status sosial siapa tamu tersebut, jika tetamunya adalah pejabat dan sebagiannya adalah tamu dari kalangan masyarakat biasa, diajaknya makan secara bersama-sama, dan beliau lebih men-dahulukan tetamunya mengambil prasmanan.

Puang Ramma memiliki kepribadian yang akomodatif, tutur katanya sopan namun tegas, setiap kata dan kalimat yang terucap dari mulut nya mudah dimengerti dan dipahami bagi yang mendengarnya, hal ini terutama jika beliau mem-bawakan ceramah dan pengajian.

Pada momen seperti itu, beliau sangat keras dalam menyampaikan kebenaran, namun sangat terbuka terhadap pendapat orang lain, sehingga setiap orang yang berjumpa dengannya dihargainya. Beliau tidak bersikap diskriminatif, beliau mengayomi siapa saja, tidak pernah bersikap dan berucap yang dapat menyebabkan orang lain tersinggung.

Sikap santun seperti ini, terlebih dahulu di-terapkan dalam rumah tangganya. Tidak pernah terjadi konflik antara beliau dengan isteri dan anak-anaknya, apalagi mengeluarkan ucapan yang emosional seperti marah. Beliau memilih diam bila ada hal yang tidak disetujuinya, kemudian menerapkan apa yang diinginkan dengan cara lain.

Puang Ramma sangat empati untuk kebaikan orang lain dan sangat tinggi keprihatinanya terhadap kesulitan yang di-hadapi orang lain. Beliau ringan tangan mengulurkan infak dan sedekah terhadap orang yang membutuhkannya, apalagi untuk kepentingan jamaahnya.

Karena itu, beliau minimal empat kali dalam sebulan mengunjungi jamaahnya di ber-bagai tempat tanpa mengenal jarak yang berjauhan dengan berbagai resiko yang harus dilaluinya.

Parangloe misalnya, sekitar 100 km dari Makassar dengan menapaki medan jalan yang terjal, menyusuri gunung dan pendakian yang tinggi. Tempat jamaahnya yang sering pula dikunjungi, adalah Pulau Salemo tanpa mengenal panas terik matahari, dan gelombang ombak lautan yang menghalangnya.

Tulisan :KM Mahmud Suyuti

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top