Kepada yang terhormat Tuan Besar Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII). Tentu Tuan Besar PB mengetahui segala perkara yang terjadi di distrik PKC maupun PC Se-Indonesia, dan yang terjadi di bumi Sulawesi ini. Kota Makassar tepatnya.

Momentum Kongres XIX di Palu pada Mei mendatang semakin mendekat, mengetahui perhelatan itu sebagai forum terbuka, luas dan secara demokratis membahas seluruh persoalan dalam tubuh PMII se-Indonesia. Maka saya simpulkan agenda besar itu bukan hanya sekedar beradu PC mana yang paling kuat? Betul kan Tuan Besar PB?

Telah diadakan seleksi Calon Ketua. Sebelumnya PC masing-masing mengirim calon terbaiknya untuk mendaftar. Hasilnya ada empat calon yang tidak lulus atau tidak diluluskan. Tiga untuk PB PMII dan satu untuk PB KOPRI. Dari ketiga calon PB PMII yang tidak lulus satu diantaranya delegasi dari PC Makassar.

Sungguh sangat menyayat sebagai Kader PC Makassar dan saudara kandung ideologi tuan Besar PB. Sahabat Labusab dan PC PMII Makassar merasa dizolimi oleh BPK dalam mandat Tuan Besar PB sendiri.

Menyambung soal bahwa menidak luluskan sahabat Labusab yang direkomendasikan PC Makassar agar kembali dipertimbangkan dan tidak diabaikan sebelum jamuan Kongres dimulai. Karena perihal itu akan menghambat perkembangan kaderisasi yang ada di PC Makassar sendiri dengan permunculan tuan Besar PB PMII sebagai dalangnya.

Menimbang sahabat Labusab merupakan satu dua kader terbaik yang dimiliki PC Makassar, khususnya PK UNM. Maka tidak pantaslah tuan Besar PB dalam perwakilan BPK menindak sepihak dan merugikan pihak lainnya, ya tuan besar PB dan PBK telah subjketif dalam menilai Kader.

Ini bukanlah hal yang diinginkan setiap anggota sejak pertama mengikrarkan diri diba’iat dalam organisasi Biru Kuning itu. Tuan besar PB tahu kan? Bahwa PMII bukan untuk politik praktis dan bergelut dalam urusan pribadi, namun untuk kemaslahatan seluruh anggota bahkan untuk Indonesia.

Apapula keberatan tuan besar PB untuk membolehkan Sahabat Labusab mengisi bursa pencalonan ketua umum? Bukankah itu hak seluruh anggota tanpa pengecualian?. Syaratnya telah terpenuhi. Lantas terhormatkah bertahun lamanya proses Sahabat Labusab di PMII harus terkalahkan oleh secarik kertas dan bantalan stempel yang formalitas itu?.

Dalam hal ini mewakili kepentingan sekelompok orang pada tubuh PMII. Saya rasa tuan Besar PB lebih mengetahui esensi berorganisasi dari pada saya. Kemaslahatan bersama diatas pribadi.

Apalah arti pertemuan besar Kongres kalau hanya berakhir kecewa dalam hati dan penat dalam pikiran, ironinya akibat dari kekecawaan kader itu bukan dari sesiapa melainkan Tuan Besar PB sendiri. Masih pantaskah Tuan-tuan mendapatkan penghormatan setelah berulah sedemikian?

Mengikuti pertikaian awal tahun ini dalam tubuh PMII Sulawesi Selatan khususnya Cabang Makassar, mendesak saya selaku kader untuk menyurati Tuan-tuan terhormat yang duduki kursi PB PMII agar segera mengambil kembali keputusan yang sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya keputusan.

Menulis ini saya akhiri dengan kutipan Om Pramoediya Ananta Toer; Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan (Bumi Manusia; Hal 77).

Oleh: Anzhalox Welliken
Kader PMII Komisariat UMI Cabang Makssar