News

Ratusan Aktifis Mahasiswa Hadiri Dialog Hari Toleransi Internasional di UNM

gusdurian-yes

Jalur9.com, Makassar- Ratuasan aktifis mahasiswa dari berbagai latar belakang agama, etnis dan universitas hadiri diskusi peringatan hari toleransi Internasional di plataran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Makassar, Rabu sore (16/11).

Diskusi yang mengusung tema “Yang Muda yang Toleran” ini menghadirkan Suaib Amin Prawono, Koordinator Jaringan GUSDURian Sulselbar, Asran Salam dari Paradigma Institute dan Syamsul Arif Ghalib dari Makassar Internasional Peace Generation.

Dalam pemaparannya, Suaib mengatakan, toleransi hanya bisa diwujudkan melalui dialog, karena dialog merupakan salah satu jembatan untuk mendiskusikan perbedaan dan persoalan yang ada dalam kehidupan.

“Selain menjadi jembatan, dialog juga merupakan salah satu sarana untuk merawat kebersamaan,” katanya dalam diskusi peringatan hari Toleransi Internasional ini.

Lebih lanjut, mantan ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Makassar ini mengatakan, dalam Islam toleransi merupakan salah satu ajaran Rasulullah Saw.

Untuk memperjelas pernyataan tersebut, ia pun mengutip salah satu riwayat dimana suatu ketika janazah orang Yahudi lewat di hadapan Rasulullah SAW, melihat jenazah tersebut, Nabi Muhammad SAW langsung berdiri, dan pada saat yang sama ia ditanya oleh sahabatnya, ”wahai Rasulullah, itu jenazah orang Yahudi, kenapa engkau berdiri (menghormatinya)” Nabi Muhammad SAW menjawab, “apakah dia bukan manusia?

Menurutnya, riwayat ini menjadi gambaran bahwasanya Nabi Muhammad SAW sangat menghargai perbedaan. Karena jangankan orang hidup, orang yang telah meninggal, sekalipun berbeda agama tetap ia hormati.

“Lewat riwayat ini, kita juga dapat melihat bahwasanya tradisi menghormati non muslim bukanlah ajaran yang bersumber dari paham liberalisme, melainkan ajaran yang dipraktikkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam kehidupannya,” katanya.

Sementara itu, Asran Salam mengatakan toleransi tidak boleh terbatas pada pengakuan tentang perbedaan atau tidak hanya terbatas pada koeksistensi tetapi menurutnya lebih jauh toleransi harus mampu mendorong relasi untuk kemajuan bersama

Selanjutnya, Syamsul Arif Ghalib yang menjadi pembicara ketiga mengatakan, dalam sejarahnya agama kerab kali dijadikan sebagai legitimasi untuk tindakan intoleran. Itu karna klaim kebenaran tunggal oleh agama yang dianutnya sehingga dengan mudah menjustis orang di luar mereka sesat.

Dialog yang diinisiasi oleh Jaringan GUSDURian Makassar bekerjasama dengan LISAN, PMII Komisariat UNM, dan LKIB UNM ini juga menampilkan band Clemtine, dan pembacaan puisi yang disampaikan oleh Alfian Dipahattang dan Mario Hikmat Ansari.

 

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top