News

Rais ‘Amm PBNU Serukan Gerakan Literasi Pesantren

PBNU UMUMKAN KEPENGURUSAN MASA KHIDMAT 2015-

2020. Ketua Umum  PBNU Said Aqil Siradj (kanan) bersama pengurus PBNU 

Rais Aam Ma'ruf Amin memberikan keterangan kepada wartaawan saat 

mengelar jumpa pers terkait pengumuman kepengurusan masa khidmat 2015-2020 

di Jakarta, Sabtu (22 Agustus 2015). Said Aqil dalam sambutannya mengatakan, 

pengurus NU yang baru juga menjaring dari Indonesia tengah dan timur. Tokoh-

tokoh muda yang punya peran besar diberikan kesempatan. KORAN SINDO/EKO 

PURWANTO
Sumber Gambar: news.okezone.com

Jalur9.com- Serang,- Rais ‘Amm Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, K.H Ma’ruf Amin menyerukan gerakan literasi pesantren, sebagai upaya mengimbangi radikalisme yang marak dikampanyekan melalui berbagai media.

Cicit dari Syekh Nawawi Al-Bantani ini mengingatkan para kiai dan santri untuk memanfaatkan teknologi social media dan kebebasan pers sebagai momentum buat mendakwahkan Islam ramah dan tradisi keberagamaan rahmatan lil alamin yang diajarkan di pesantren.

“Pesantren saat ini harus mengkader santri-santrinya untuk melek media dan memanfaatkannya sebagai wahana berdakwah. Di samping mengajarkan kajian-kajian fiqh, tauhid, tasawuf dan kajian khas pesantren,” papar Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini, Minggu (4/9/2016).

Maraknya da’i televisi yang terkadang tampil tanpa menguasai kajian keislaman yang komprehensif, juga menjadi perhatian Kiai Ma’ruf. Fenomena tersebut, merupakan konsekwensi dari orientasi media menampilkan nuansa hiburan buat masyarakat.

“Media memang butuh entertainment, karena itu, da’i-da’i yang tampil di TV kadang lebih menghadirkan nuansa hiburannya ketimbang substansi dakwah. Tinggal kita bina mereka, agar mampu memberikan materi dakwah yang selaras dengan ajaran pesantren, yang bijak dan mendidik masyarakat,” imbuhnya.

Literasi di dunia pesantren, menurut Kiai Ma’ruf, pada dasarnya sudah terbangun dalam tradisi kajian yang diajarkan sejak berabad lampau. Para ulama Indonesia seperti Syekh Nawawi, Syekh Ahmad Khatib Sambas, hingga ulama kekinian, banyak memiliki karya yang menjadi bahan kajian di Pesanten.

Bahkan, Syekh Nawawi dijuluki Sayyidul Ulama Hijaz, Pemimpin Ulama Hijaz, hingga saat ini dikenal di dunia akademis juga dikenang abadi, karena karya-karyanya. “Karya Syekh Nawawi menjadi rujukan para peneliti keislaman di berbagai kampus dunia.Kitabnya dikaji di pesantren-pesantren di negeri ini.

“Kajian Fiqh yang banyak ditulis oleh Syekh Nawawi dan ulama seangkatannya itulah yang kini mewarnai tradisi keislaman di Asia Tenggara, Afrika dan sebagian Eropa. Syekh Nawawi juga mengajarkan pentingnya rasa cinta tanah air. Sehingga di Indonesia, Nasionalisme dan Keislaman bisa menyatu tanpa kontradiksi. Bahkan menjadi spirit perjuangan kemerdekaan,” tandasnya.

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top