Jalur9.com, Makassar- Paham radikalisme saat ini tak hanya tumbuh berkembang lewat media sosial, tapi juga telah menjamur dan menyasar lembaga pendidikan, khususnya kalangan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA).

Berdasarkan hasil temuan Balai Penelitiaan dan Pengembangan Agama (Balitbang)  Makassar menyebutkan bahwa terdapat 101 atau 9,2 persen siswa yang menganggap Pancasila tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Tak hanya itu, dalam penelitian tersebut juga ditemukan perilaku keagamaan siswa yang sangat simbolis dan bahkan ada yang cenderung berpikir radikal serta beberapa diantara mereka menyatakan diri siap melakukan ‘Jihad’ bom bunuh diri.

Menanggapi hal tersebut, peneliti Senior Balitbang Makassar, Dr. Kadir Ahmad, MS mengatakan, jika ingin mencegah paham radikal di Sekolah-sekolah, maka pendidikan krakter tidak boleh hanya sebatas jargon, dan mestinya Dinas Pendidikan mempertajam dan menseriusi hal itu, khususnya mata pelajaran yang berkaitan dengan keagamaan dan kebangsaan.

“Kalau kita geledah pelajaran-pelajaran di sekolah khususnya di Pelajaran Agama Islam (PAI), ada basis pengetahuan yang tidak tuntas dan cenderung radikal. Misalnya, pelajaran jihad di SMA pada mata pelajaran PAI, ternyata tidak ada penjelasan jihad yang jelas. Jadi, pengalaman dan pengetahuan jihad siswa-siswa diambil dari berbagai macam sumber tanpa ada penjelasan yang jelas,” katanya, saat ditemui di sela-sela acara Seminar Nasional yang dihelat oleh Balai Litbang Agama (Balitbang) Makassar, di Hotel Clarion, Rabu (19/10/2016).

Tak hanya itu, mantan Kepala Balitbang Makassar ini juga mengatakan, media sosial yang nyaris tak terkontrol juga turut mempengaruhi cara berfikir siswa. Sementara Kominfo sebagai pengendali media seolah tak mampu mengontrol media berpaham radikal tersebut. Akibatnya, media sosial seolah menjadi barang liar.

“Persolan ini harus diselesaikan secara bersama-sama, semua lembaga atau Ormas keagamaan harus terlibat untuk
menjaga marwah bangsa ini. Kalau NU bisa dengan Islam rahmatan Lilalaminnya atau gagasan Islam Nusantara sementara Muhammadiyah dengan gagasan Islam berkemajuannya. Intinya, semua harus mengambil bagian untuk mengurangi kecenderungan paham radikal di sekolah,” tegas Dewan Pembina Jaringan GUSDURian Sulselbar ini.