News

Puang Ramma, Mursyid Tarekat Khalawtiyah Yusuf al-Makassariy

Allayarham+syekh+sayyid+djamaluddin+assegaf+puang+ramma+QSR

Ketokohan dan perjuangan Puang Ramma tidak terlepas dari jasa-jasanya sebagai murysid tarekat yang mengembang kan tarekat khalawtiyah Yusuf al-Makassariy, dan sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan sebagai ormas terbersar Islam yang memiliki banyak jamaah.

Mursyid adalah sebutan untuk seorang maha guru pem-bimbing dalam dunia tarekat, yang telah memperoleh izin dan ijazah dari guru mursyid diatasnya yang terus bersambung sampai kepada nabi, Rasulullah saw.

Oleh karena itu, jabatan ini tidak boleh di pangku oleh sembarang orang, sekalipun pengetahuannya tentang ilmu agama cukup lengkap, tetapi yang terpenting ia harus memiliki ketersambungan sanad dan silsilah ijazah sampai kepada Nabi saw.

Selanjutnya tarekat adalah jalan yang harus ditempuh seorang sufi atau calon sufi dengan tujuan berada sedekat mungkin dengan Tuhan.

Saat ini dipahami secara umum tiap tarekat mempunyai syaikh, upacara ritual dan zikir sendiri. Tarekat dalam bahasa Arab “الطريقة” artinya jalan, petunjuk dalam melakukan sesuatu, yakni petunjuk tentang ibadah sesuai dengan ajaran yang telah ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi saw dan dikerjakan oleh sahabat dan tabi’in, turun temurun sampai kepada guru-guru, sambung menyambung dan rantai berantai.

Khalawtiyah Yusuf al-Makassariy, adalah tarekat yang dimana Puang Ramma sebagai mursyidnya, silsilahnya dari seorang sufi ulama dan pejuang makassar abad ke-17, syaikh Yusuf al-Makasariy al-khalwatiyah, yang tabarruk terhadap Muhamad (Nur) al-Khalwatiy al-Khawa Rizmi (w. 751-1350).

Syaikh Yusuf al-Makasariy, yang pertamakali menyebarkan tarekat dan kemudian di era tahun 1950-an dikembangkan Puang Ramma, ijazahnya bersambung sampai kepada Nabi saw, yang dalam sejarah tarekat ini disebutkan bahwa pada tahun 1670 M., Syaikh Yusuf al-Makasari berguru dan men-dapatkan ijazah dari Syaikh Abu al-Barakah Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwatiy al-Quraisyi serta mendapat gelar taj al-khalwati sehingga namanya menjadi Syaikh Yusuf Taj al-Khalwatiy.

Di Sulawesi Selatan beliau digelari Tuanta salamaka ri Gowa (guru kami yang agung dari Gowa), nama lengkapnya adalah Muhamad Yusuf bin Abdullah Abu Mahasin al-Taj al-Khalwati al-Makassariy.

Puang Ramma setelah menerima ijazah dari gurunya dan resmi menjadi mursyid tarekat Khalwatiyah Yusuf al-Makassariy, senantiasa berupaya mengembangkannya dengan cara mendirikan cabang-cabang lokal, jamaahnya bebas ber-campur dengan masyarakat yang tidak menjadi anggota tarekat.

Adapun anggota tarekat ini banyak berasal dari kalangan bangsawan Makassar termasuk penguasa kerajaan gowa terakhir Andi Idjo Sultan Muhamad Abdul Kadir Aidid (1940-1960), dalam perkembangan berikutnya Puang Ramma lebih menfokuskan perkembangan tarekatnya secara merata ker berbagai lapisan masyarakat tanpa mengenal komposisi dan strata sosial, yang karena itu sebagian besar pengikutnya di Kota Makassar dan di pedesaan dominan di Parangloe dan Pulau Salemo.

Tarekat Khalwatiyah Yusuf al-Makassariy yang dipimpin Puang Ramma semasa hidupnya, merupakan amanah dan warisan dari pendirinya, Syaikh Yusuf yang tidak saja pengaruhnya di bumi nusantara, melainkan sampai ke Timur Tengah, Srilangka, dan ke Afrika Selatan.
Sepeninggal Syaikh Yusuf, 23 Mei 1699, masyarakat sampai kini mengsakralkan kuburannya yang terletak di Jalan Syaikh Yusuf Lakiung Sungguminasa, mereka datang ke sana untuk berwasilah, ber-nazar, berdoa, dan bertabarruk.

Konsep utama ajaran tarekat yang diajarkan kemudian dikembangkan Puang Ramma sesuai paradigma Syaikh Yusuf al-Makassariy sebagaimana dikemukakan oleh Abu Hamid, adalah pemurnian kepercayaan (aqidah) pada keesaan Tuhan. Ini merupakan usahannya dalam menjelaskan transendensi Tuhan atas ciptaan-Nya.

Puang Ramma menekankan keesaan Tuhan, keesannya-Nya tidak terbatas dan mutlak. Tauhid adalah komponen penting dalam ajaran Islam, yang meskipun berpegang teguh pada transendensi Tuhan, Puang Ramma percaya Tuhan itu mencakup segalanya (al-ahattah) dan ada di mana-mana (al-ma’iyyah) atas ciptann-Nya.

Lebih lanjut Puang Ramma dalam mengajarkan tarekat ini, meskipun berpendapat bahwa Tuhan mengungkapkan dirinya dalam ciptaan-Nya, hal itu tidak berarti bahwa ciptaan-Nya itu adalah Tuhan itu sendiri, semua ciptaan adalah semata-mata al-mawjud al-majazi.

Dengan demikian dipahami bahwa, Puang Ramma percaya ciptaan hanyalah bayangan Tuhan bukan Tuhan itu sendiri. Menurutnya “ungkapan” Tuhan dalam ciptaan-Nya bukanlah berarti kehadiran “fisik” Tuhan dalam diri mereka.

Dengan konsep al-Ahathah dan al-Ma’iyah Tuhan turun (tanazzul), sementara manusia naik (taraqqi), suatu proses spiritual yang membawa keduanya semakin dekat. Namun proses itu tidak akan mengambil bentuk dalam kesatuan akhir antara manusia dan Tuhan, sementara keduanya menjadi semakin dekat berhubungan dan pada akhirnya manusia tetap manusia dan Tuhan tetap Tuhan. Dengan demikian, Puang Ramma kelihatannya menolak konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud) dan al-hulul (inkarnasi).

Di sini dipahami bahwa Puang Ramma lebih menekankan, keberadaan Tuhan tidak dapat diperbandingkan dengan apa pun (laisa ka mitslihi syai’). Beliau mengambil konsep konsep wahdat al-syuhud (kesatuan kesadaran).
Selanjutnya konsep Puang Ramma berkenaan wasilah, adalah mediasi melalui dirinya sebagai mursyid, seorang pembimbing spiritual adalah sesuatu yang sangat diperlukan demi kemajuan spiritual, yang karena itu semasa hidupnya, Puang Ramma selalu mengadakan amalan ritual bersama jamaahnya.

Setiap malam Jumat beliau mengumpulkan jamaahnya, dan mentradisikan pembacaan kitab sirah Nabi saw., burdah al-Barazanji disertai salawatan di rumahnya, Jalan Baji Bicara, banyak jamaah yang mengikuti rutinitas seperti ini.

Demikian pula setiap bulan Ramadhan, Puang Ramma menggelar acara zikiran, bahsul masail dalam forum diskusi tasawuf dan pengajian bagi jamaahnya, terutama pada malam-malam ganjil akhir Ramadhan.

Sepeninggal Puang Ramma acara ritual seperti yang di-sebutkan di atas, senantiasa mentradisi dan diamalkan secara berkelanjutan oleh jamaahnya, bahkan lebih terorganiasir lagi karena jamaah tarekat Puang Ramma di era sekarang telah membentuk organisasi dengan nama Darul Ahsan yang fokus pada amalan zikir, dan untuk pengembangan dakwah jamaah tarekat Puang Ramma saat ini pula merintis pembangunan Pesantren Tahfidzul Qur’an di Sudiang.

Berdasarkan database terakhir, jumlah jamaah Tarekat Khalwatiyah Yusuf al-Makassariy sepeninggal Puang Ramma, mencapai 10.000 orang, tersebar diberbagai daerah, khususnya di Makassar, Gowa, Maros dan Pangkep

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top