Fiksi

Puang Kanre, Potret Guru Mengaji Tanpa Pamrih di Pedalaman Sinjai

Puang Kanre, Guru Mengaji di Pedalaman Sinjai

SINJAI – Kabupaten Sinjai terkenal dengan sebutan Butta Panrita Kitta’. Julukan yang khas bermakna tanah para ahli pembaca kitab suci. Kondisi demikian setidaknya masih bisa terlihat di beberapa tempat di Kabupaten ini. Misalnya di Dusun Bulu-bulu, Desa Bulu Tellue, Kecamatan Bulupoddo, Kabupaten Sinjai.

Di desa ini masih terdapat guru mengaji yang ikhlas tanpa pamrih, tidak memungut biaya ataupun imbalan lainnya, mereka tulus mengajarkan anak-anak sekitar rumahnya mendalami cara baca aksara kitab suci tersebut hingga mahir tentunya.

Salah satunya bernama Puang Kanre, perempuan yang telah berusia 70 tahun ini, dengan keadaan fisik sudah lumpuh dan duduk di kursi roda. Meski begitu, Puang Kanre masih semangat mengajari anak-anak mengaji.

Cara mengajarnyapun terbilang unik, dia tidak duduk bersama anak santrinya, melainkan tetap sibuk melakukan aktifitas lainnya. Sembari mengerjakan lainnya, indera pendengarannya masih peka untuk mengawasi lafal yang dibacakan santrinya, begitupula dengan hafalannya, masih sangat kuat.

Ini lebih unik lagi, bagi anak-anak yang hendak mengawali mengaji di rumahnya, diharuskan datang pada hari Jumat subuh, dimandi dan didoakan. Mandi bagian dari bersuci dan supaya anak-anak tersebut tidak akan mengalami kesulitan dan cepat paham dan lancar membaca Al-Quran.

Metode mengajar Puang Kanre sangat berbeda pada umumnya, jika lazimnya anak-anak mengaji mengawali dengan pengenalan huruf dulu atau menggunakan kitab Iqra 1-6. Puang Kanre justru langsung mengajarkan surah-surah pendek. Pengakuannya tidak kesulitan dan tidak membutuhkan waktu lama anak santrinya akan mengetahui huruf dengan sendirinya.

Mulai mengajar sejak tahun 1966 hingga sekarang. Santrinya telah tersebar dan banyak diantaranya kini telah menjadi guru mengaji pula. Kini Puang Kanre memenuhi kebutuhannya dengan membuat kasur dari buah kapuk, membantu suaminya yang bermata pencaharian di sawah.

Masih di sekitar kampung Puang Kanre, pemerintah saat ini telah menata guru mengaji di masjid-masjid. Anak-anak diarahkan untuk mengaji di masjid yang diajar oleh ustazd dan ustazdah.

Guru mengaji ini difasilitasi langsung oleh pemerintah. Orang tua santri juga lebih percaya menyuruh anak-anak mereka mengaji di masjid di bandingkan pada guru-guru mengaji kampung. Sehingga otomatis jumlah anak santri yang diajar Puang Kanre berkurang.

“Padahal anak santriku yang selalu mewakili desa untuk lomba mengaji dan menghafal. Mereka selalu juara,” katanya pada jalur9.com, Senin (11/7/2016).

Pemerintah Kabupaten Sinjai memang memberikan gaji kepada guru mengaji yang mengajar di masjid. Puang Kanre mengaku tidak dilibatkan karena dianggap sudah berumur dan keadaan fisik yang tidak memungkinkan.

“Semoga masih tetap ada orang tua yang mengizinkan anaknya mengaji di rumahku, saya tidak mengharap pamrih, melainkan saya sangat puas dan senang ketika anak-anak di desa ini bisa mengaji dengan baik”, tutupnya

Laporan : (Mha’)

Editor : AR

 

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top