Fiksi

Profil Ketua PKB Sulsel Azhar Arsyad, ‘Dedikasi Tiada Henti’

Azhar Arsyad

Azhar Arsyad
Dari Aktivis ke Politisi

AZHAR– begitu biasa ia disapa, pemilik nama lengkap Azhar Arsyad ini, lahir di Makassar 1 September 1967. Ayahnya, (alm) H Arsjad Brahim penah menjadi Kepala Departemen Agama Kabupaten Pinrang, ibunya Hj Arsani merupakan seorang pengajar.

Azhar menjalani masa kanak-kanak di Kota Parepare, disinilah ia mulai dididik oleh kedua orang tuanya, berbekal ilmu agama dan kedisiplinan. Kini, Azhar boleh dibilang tokoh yang terbilang penting di kalangan politisi di Sulsel dengan memegang amanah Ketua DPW PKB Sulsel.

Namun siapa yang sangka, sebelumya ia pernah merasakan keras dan pahitnya hidup, berjuang untuk memenuhi kebutuhan dengan rupa-rupa pekerjaan la jalani.

Azhar pernah melakukan pekerjaan yang mungkin hanya sedikit orang yang sanggup melakukannya, Masa muda Azhar kerja serabutan, mulai dengan menerima jasa ketikan.

Hal itu dilakukan hingga berjalan dua tahun. sebelum pindah profesi menajdi sales produk rumah tangga, Azhar berkeliling dari rumah ke rumah, lorong ke lorong, jalan kaki dan naik turun pete-pete (angkutan umum) menawarkan produknya.

Tak sampai di situ, Azhar pun pernah nyambi jadi sopir antar daerah (Phanter), trayek Makassar-Pinrang.Jarak kurang lebih 400 KM (pulang-pergi) ia tempuh dalam sehari. Tak lain hanya untuk memenuhui priuk dan dapur agar tetap mengepul.

Aktif di LSM

Tak kurang 20 tahun, Azhar bergelut di dunia LSM kira-kira gambaran dirinya. Betapa tidak, kala usianya masih remaja saja, saat menjadi siswa Madrasah Aliyah Negeri di Makassar, dirinya sudah bergaul dengan kelompok mahasiswa yang lantang menyuarakan anti orde baru disaat itu, Rumahnya di Jalan Manuruki kerap ‘dipinjam menjadi arena konsolidasi aktivis mahasiswa.

Berbekal “kecepatan” pergaulan tersebut, juga pemahaman mengenai kebangsaan, membuat Azhar mampu ‘memainkan’ banyak ritme ketika menjadi mahasiswa.

Aktif di sejumlah lembaga kampus, endingnya terpilih menjadi Ketua Umum PMII Cabang Makassar era 1990-an Bahkan Ia juga telah terlibat dalam dunia LSM.

Torehan prestasi tersebut dicapai usai meraih gelar Sarjana Hukum di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Azhar makin mantap di jalurnya yang digeluti dunia LSM.

Sempat aktif di Lembaga Kajian Pengembangan Masyarakat dan Pesantren (LKPMP), sejak 1998-2003 kemudian diangkat menjadi ketua FIK Ornop Sulsel di tahun 2003-2006. Pada tahun yang sama pula, ia menjadi Wakil Ketua Dewan Etik Assosiasi LSM se-Sulsel.

Sampai pada akhirnya, hatinya yang tertambat di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak 1998, menuntut andilnya. Salah satu alasannya, PKB cocok dengan pemahaman gerakannya selama ini.

“Partai ini partai hijau, bukan karena azasnya, tapi karena perjuangannya bersama kaum marginal,” terang mantan Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Sulsel ini.

Ditanyakan mengenai gagasannya dalam berpolitik, ia berpandangan ideologi politik selama ini membenturkan antara ideologi negara dan agama dalam jarak, sudah semestinya diretas.

Memegang teguh nilai kebangsaan dan nasionalis bukan berarti jauh dari tuntunan agama. Azhar melihat ada semacam penjelasan yang kurang pas, mislanya pada sisi Islam, tersebar wacana ancaman sekularisasi yang dibawa oleh kaum nasionalis, sementara pada pihak nasionalis yang beredar adalah ancaman Islamisasi atau politik Islam. “PKB dan NU menjaga Islam dan NKRI dalam satu tarkan nafas sekakigus,” katanya.

Juga berpolitik, bagi Azhar bukan berarti meninggalkan pendampingan, namun, dalam penilaiannya gerak politik dan aktivis tak boleh lagi saling me-negasi.

Meski lama bergelut di LSM, Kini Azhar tegas memilih partai sebagai alat, misi dan jalur dalam berjuang untuk kepentingan rakyat, dengan flat from Islam Rahmatan Lilalamin.

Sembari semua hal itu dilakoni, di waktu yang hampir sama pula, Azhar menjadi Sekeretaris Jenderal di salah satu ormas Umat Islam tebesar di Indoneisa, DarudDakwah Wal 1rsyad (DDI) 2009-2014.

Di sini, Azhar memainkan peran penting, menjaga stabilitas organisasi, mengembangkan dan melakukan terobosan-terobosan. Banyak hal dilakukan, tentu dalam bimbingan banyak guru pula, salah satunya dibawah bimbingan langsung Prof Dr KH Abd Muiz Kabriy.

PKB berdiri secara formal tahun 1998, saat awal era reformasi. Meski masih berusia 18 tahun, PKB sesunguhnya adalah kelanjutan gerak politik ormas Nahdlatul Ulama (NU) yang lahir ditahun 1926, dan kelanjutan ikhtiar politik saat NU ikut dalam kontestasi politik era orde lama, pemilu tahun 1955.

Dengan begitu, PKB bukanlah partai yang lahir buah dari produk situasi di era reformasi semata, namun yang partai kerap disebut “Partai Bintang Sembilan’ ini adalah produk sejarah dalam perjalanan bangsa. Artinya, banyak peran telah dimainkan, meski mungkin hanya sedikit sekali difahami khalayak.

Sebagai Ketua PKB, tentu dalam upaya membesarkan PKB di Sulsel membutuhkan energi yang lebih besar, dengan gerak yang lebih progresif, agar partai hijau ini dapat keluar dari “perangkap-problem internal” yang selama ini mengungkung, yakni, dengan segera melakukan percepatan disegala bidang.

Pasca berakhirnya masa kepengurusan DPW PKB Sulsel 2014. DPP PKB tak perlu lagi kasak-kusuk mencari Ketua wilayah yang baru. Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar bergerak cepat dengan langsung menetapkan Azhar Arsyad menjabat ketua DPW PKB Sulsel periode 2014-2019

Fenomena ini termasuk sensasional, brilian sebab penetapan Ketua DPW dengan pertimbangan tertentu, tentu kompetensi dan komitemen Azhar.

“Jabatan bukan untuk dibanggakan, namun sebuah amanah,” singkat Azhar kepada wartawan suatu waktu.

PKB sesungguhnya adalah produk sejarah Inilah yang jarang diungkap. Menjadi keliru jika kita tidak melihat kalau dalam anatomi energi dasar PKB, kekuatan besar yaitu: Islam moderat, Kemanusiaan-kebhinekaan, dan Kerakyatan. inipula yang menjadipegangan Azhar dalam menahkodai PKB.

Tiga spirit besar ini menjadi semacam “tenaga dalam PKB menghadapi tekanan berlapis dari luar dirinya. juga sebagai panggilan ideologi, dan pengingat kepada masyarakat akan besarnya visi-misi, gagasan, flatfrom dan cita-cita PKB.

Berasal dari pengalaman panjang di LSM dan organisasi yang berbasis kader Nahdilyin (PMII, IMDI dan Ansor). Atas dasar itulah, Azhar dipandang cukup pas dan tepat menjaga kepemimpinan PKB di Sulsel. “Ada titik-titik tertentu, yang sedini mungkin harus dibenahi dan dikembangkan di partai ini.

Baginya, PKB Suslel ke depan, secara keseluruhanharus berhasil menorehkan kiprah, dedikasi dan kontribusi dalam perjalanan bangsa dan pembangunan daerah. Khususnya dalam meng’endors’ atau mendorong perubahan-perubahan yang tantangannya kian beragam.

Seperti itu sosok Azhar Arsyad, dengan “Dedikasi Tiada Henti”

Azhar Arsyad
Lahir: di Makassar, 1 September 1967

RIWAYAT PENDIDIKAN
SDN No 38 Parepare, 1980
SMPN 2 Kendari, 1983
MAN Makassar, 1986
Fakultas Hukum UMI Makassar 1992
Pasca Sarjana Unhas, Makassar

RIWAYAT PEKERJAAN
Direktur LKPMP Makassar, 2000-2003
Koordiantor FlK Ornop Sulsel, 2003-2006

RIWAYAT ORGANISASI
Ketua Cab. PMII Kodya Makassar, Tahun 1993-1994
Pucuk Pimpinan IMDI
Wakil Ketua KNPI Sulsel, 2001-2004
Wakil Sekjen PB DDI, 1999-2007
Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor, 2008-2012.
Sekjen PB DDI, 2009-2014.
Ketua DPW PKB Sulsel 2012-2014 dan 2014-2019.

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top