Jalur9.com, Makassar – Jaringan GUSDURian Makassar, secara perdana, memulai roadshow dialog Pojok GUSDURian Kampus, selasa (11/10) di UIN Alauddin Makassar. Agenda ini bertujuan meneruskan pemikiran, cita-cita dan perjuangan Gus Dur.

Dialog bertema “Mengurai Prasangka, Menjembatani Perbedaan” tersebut, dihadiri oleh puluhan peserta dari kalangan mahasiswa, hadir sebagai narasumber Syamsurijal Ad’han (Pembina Jaringan GUSDURian Makassar) dan DR. Sabri AR (Dosen UIN Alauddin Makassar)

“Pojok GUSDUrian Kampus akan kami gelar di setiap kampus yang ada di Kota Makassar dan sekitarnya. Dengan intensifnya kegiatan ini, harapannya kedepan, keran dialog mengenai isu-isu antar umat beragama dan lintas golongan akan lebih luas terbuka” papar Fadlan L Nasurung, selaku Koordinator Jaringan GUSDURian Makassar.

Lebih lanjut, dalam pemaparan singkatnya, Syamsurijal Ad’han menjelaskan bahwa prasangka lahir dari cara pandang cenderung sempit terhadap orang atau kelompok tertentu. Di tambah media hari ini yang kerap mengabarkan suatu peristiwa dengan framing yang bisa menyulut api kebencian. “Dari pengalaman saya meneliti dan kemudian berdialog dengan beberapa orang atau kelompok. Saya mendapati banyak yang memandang seseorang dari bingkai atau jendela yang terlampau sempit. Melalui cara pandang ini, prasangka akan muncul dan perlahan-lahan bermetamorfosis menjadi stigma dan kebencian.” Ungkap Peneliti Litbang Kemenag ini.

Senada dengan penjelasan Syamsurijal, DR Sabri AR mengungkapkan tentang banyaknya konflik yang berlatarbelakang isu SARA yang diakibatkan kurangnya kemampuan seseorang/kelompok membangun realsi intersubjektif dengan yang lain. “Seorang manusia sebagai subyek, mesti memosisikan dirinya sebagai jendela sekaligus cermin. Jendela yang mampu melihat orang lain secara lebih komprehensif dan cermin yang meletakkan diri sendiri sebagai produk Ilahi yang penuh cinta kepada sesama.” Kata Dosen Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar ini.

Di akhir diskusi, kedua pemantik sepakat bahwa untuk tetap merawat keharmonisan bangsa Indonesia, hendaknya selalu membuka cakrawala berpikir dengan terus-menerus memperluas bacaan dan aktif membangun dialog lintas golongan.

Laporan: Ilham