Opini

Penjajahan atau Persaingan

Aras Baru

Indonesia adalah Negara yang memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, hal tersebutlah yang menjadi salah satu alasan penjajah mengekspansi bangsa ini.

Penjajahan yang berkepanjangan, membawa beban psikologi bagi masyarakat Indonesia. Bukan hanya bagi yang mengalami langsung, tapi beban tersebut tertular dari generasi ke generasi.

Kira-kira seperti itu gambaran penulis melihat fenomena sekarang. Saat ini, sudah puluhan tahun sejarah tersebut berlalu. Tapi seakan-akan penjajahan itu baru kemarin terjadi.

Ada apa? Apakah karena penjajahan tersebut begitu sadis, dan membawah dampak sosial, ekonomi sehingga masyarakat Indonesia begitu tertekan. Atau ada pergeseran mengenai arti penjajahan?

Pasalnya, masyarakat sekarang ini begitu gampang merasa terjajah khususnya di bidang ekonomi. Termasuk dikalangan pemuda, mahasiswa dan remaja. Setiap dominasi kelompok tertentu, hal tersebut dianggap ‘penjajahan’.

Dominasi negara asing terhadap Indonesia juga dianggap sebagai sebuah penjajahan. Seperti dari segi perekonomian (korporasi), pendidikan dan lain-lain.

Untuk itu, perlu ada pemahaman kembali terhadap arti dari kata penjajahan. Jangan sampai persepsi mengenai penjajahan mengalami kekeliruan. Atau jangan sampai kata ‘penjajahan’ dijadikan alasan untuk menutupi ketidak mampuan bangsa dalam persaingan ekonomi.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penjajahan adalah proses, cara dan perbuatan menjajah dan Penjajah adalah negeri (bangsa) yang menjajah atau orang yang terlalu menguasai (menindas dan sebagainya) orang lain (bawahan dan sebagainya).

Penjajahan adalah sebuah sistem di mana suatu negara atau kelompok menguasai negara atau kelompok yang lain. Dan berakibat terhadap kemunduran negara atau kelompok karena eksploitasi dan ketidak adilan.

Artinya sistem yang diterapkan hanya menguntungkan satu sisi yang kemudian dianggap penjajah. Andre Gunder Frank berpendapat bahwa kolonialisme atau penjajahan adalah perpindahan kekayaan dari daerah yang dikolonisasi ke daerah pengkolonisasi dan menghambat kesuksesan pengembangan ekonomi.

Hal tersebut akibat dari sistem yang berpihak kepada penjajah. Ketimpangan sistem tersebut merusak tatanan sosial dalam masyarakat, seperti pendapat Franz Fanon selaku pengkritik post-kolonialisme bahwa penjajahan merusak politik, psikologi dan moral negara terjajah.

Melihat konteks sekarang ini, khususnya dari segi perekonomian global asing dianggap mendominasi dan sebagai ‘penjajah’ di dalam negeri. Ketika dilihat dari kemajuan globalisasi, hal tersebut adalah sebuah persaingan ekonomi, bukan sebagai penjajahan.

Justru penulis beranggapan, bahwa bisa saja hal tersebut adalah issu yang sengaja dibangun atas kepentingan kelompok tertentu, dengan membangun persepsi bahwa hal tersebut adalah ‘penjajahan’.

Ketika demikian, hal ini akan membawa kemunduran dan menurunkan semangat persaingan bangsa (perusahaan dalam negeri). Sampai dengan rasa frustasi yang menghambat kreatifitas dan kualitas produk (perusahaan).

Dominasi perusahaan asing tidak akan bisa masuk dalam negari apabila sistem yang diterapkan hanya menguntungkan satu sisi. Sistem yang berimbang menjadi salah satu aspek yang mendorong perkembangan perusahaan asing, sehingga bisa diterima.

Bangsa harus bisa bersaing dan saling berhadapan dengan meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) guna menghasilkan kualitas produk (perusahaan) yang berdaya saing.

Penulis berkeyakinan bahwa ketika hal tersebut bisa diterapkan, bukan hanya asing yang bisa mendominasi, tapi Indonesia (korporasi) juga bisa masuk dalam negara yang lain. Membangun profesionalisme adalah senjata untuk saling mendominasi, baik luar dan dalam negeri.

Penulis: Muhammad Aras Prabowo
Mahasiswa Pascasarjana Univ. Mercu Buana Jakarta

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top