News

Peneliti Litbang Agama Ini Sebut Dinamika Keagamaan Cukup Tinggi Pasca Reformasi

IMG_20171009_211121

MAKASSAR – Dinamika keagamaan di Indonesia berlangsung cukup tinggi sejak 15 tahun reformasi. organisasi keagamaan baru (khususnya dalam agama Islam) meramaikan keislaman di Indonesia.

Ada yang tampil dalam bentuk yang sederhana, terbatas. Ada yang tampil dalam bentuk yang ekspresif. Ada pula yang muncul dalam bentuk yang radikal seperti kelompok teroris.

Hal itu diungkapkan Peneliti Balai Litbang Kemenag Makassar, Saprillah Syahrir saat memaparkan hasil pemetaan kelompok keagamaan di Provinsi Gorontalo, di Hotel Clarion, Senin (9/10/2017).

“Kelompok aliran yang sudah lama ada di Indonesia pun kembali seperti Ahmadiyah, Syiah, dan Lia Eden. Tampaknya, reformasi telah menjadi stimulan bagi setiap kelompok agama untuk memunculkan diri dalam ragam bentuk yang berlain-lainan,” ujar Pepi, sapaan akrab Saprillah Syahrir.

Saprillah Syahrir saat memaparkan hasil pemetaan kelompok keagamaan di Provinsi Gorontalo, di Hotel Clarion, Senin (9/10/2017).

Saprillah Syahrir saat memaparkan hasil pemetaan kelompok keagamaan di Provinsi Gorontalo, di Hotel Clarion, Senin (9/10/2017).


Ia menambahkan jika kemunculan berbagai ragam dan corak organisasi, kelompok dan aliran keagamaan, bisa dibaca dalam dua perspektif. Pertama, reformasi telah menjadi ruang kebebasan beragama, dalam arti yang kreatif kelompok agama yang semula kurang terdengar akibat penetrasi kebijakan orde baru, seperti menemukan momentum yang tepat untuk berekspresi.

“Artinya, umat Islam di Indonesia sangat kreatif dan responsif terhadap realitas dan persoalan-persoalan kontemporer yang dihadapi. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa agama masih menjadi kekuatan utama dalam konfigurasi sosial masyarakat Indonesia,” imbuh penulis novel tentang Calabai ini.

Kedua, lanjutnya, munculnya potensi konflik baru. Ekspresi yang beragam itu muncul dalam titik yang berbeda, bahkan cenderung ekstrim. Kelompok FPI misalnya dianggap mewakili cara pandang keberagamaan yang ekspresif dengan paradigma teologis yang puritan.

“Segala hal yang dianggap menghina, menciderai, dan menodai ‘kesucian’ agama Islam akan ditindak dengan cara sweeping dan penyerangan. Sedangkan kelompok aliran lain sebut saja Lia Eden muncul dalam watak keagamaan yang terbatas, pasif, ekslusif dengan paradigma teologis yang ‘berbeda’ dengan teologi (Islam) mainstream,” terangnya.

Mereka hadir dengan membawa paham dan gerakan keagamaan yang secara teologis berbeda dengan teologi Ahlussunnah, seperti dianut kebanyakan dan secara kuantitas mereka minoritas.

Dengan perbedaan pandangan seperti itu, sambung Pepi, maka akan sangat mudah memunculkan peristiwa sosial yang berorientasi destruktif. Di Indonesia, kemunculan “agama baru” disambut dengan falsifikasi teologis otoritas keagamaan (Islam) yang direpresentasi oleh MUI bahkan membuat aturan yang menjadi garis batas suatu aliran tergolong “sesat’ atau tidak.

Untuk itu, menurut Pepi, pemerintah sangat berkepentingan untuk membangun desain politik keagamaan yang tepat.

“Seperti konstitusi negara melalui pasal 29 UUD 1945, konstitusi PNPS No 1 1965 pun menerbitkan rambu-rambu yang mengatur lalu lintas parade keagamaan agar tidak bertabrakan satu sama lain,” pungkas pria yang ‘terancam’ penulis novel terbaik tingkat nasional tahun 2017 ini.

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top