Jalur9.com, Makassar – Bidang Kehidupan Keagamaan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar menggelar seminar hasil penelitian “Respon Publik Sekolah Terhadap Radikalisme di Kawasan Timur Indonesia” rabu (19/10) di Hotel Clarion Makassar.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan Survei, yaitu berdasarkan data dari respons siswa terhadap radikalisme agama. Respon mencakup tiga aspek, yaitu kognitif (pemahaman), afektif (kesetujuan), dan konatif (kesediaan untuk bertindak). Penelitian ini dilakukan selama 18 hari, yang dibagi ke dalam dua tahapan: 5  hari penjajakan dan 13 hari pengumpulan data, dan dilakukan di lima Provinsi, yaitu Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku. Lokasi penelitian berada di ibukota masing-masing Provinsi tersebut.

Dalam paparannya Ali Syaputra mengungkapkan bahwa data penelitian menunjukkan bahwa nalar keagamaan yang berkembang di kalangan siswa SMA dan sederajat adalah nalar moderat. Hal ini terlihat dari mayoritas siswa tidak terlalu simbolik dalam memahami kebenaran Islam. Kebenaran Islam adalah kebenaran yang tidak menutup ruang atas kebenaran agama lain. “Jihad dipahami dalam konteks belajar dan upaya sungguh-sungguh, mayoritas responden menerima Pancasila, bentuk NKRI sebagai bentuk Negara yang diinginkan dan dianggap sudah ideal. Bahkan watak pemimpin yang adil lebih disukai ketimbang embel-embel agama yang melekat secara simbolik pada dirinya” ungkap Ali Syaputra.

Ali Syaputra menambahkan bahwa nalar moderat ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa SMA sejatinya tidak memiliki fondasi radikalisme yang kuat. Hal ini terkonfirmasi pada data ditemukan, bahkan persentasi responden yang tidak sepakat dengan tindakan kekerasan atas nama agama relatif tinggi. “Para siswa memahami bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekolompok orang Islam adalah merusak citra Islam. Sebagai misal kasus rentetan terorisme yang melibatkan segelintir umat lslam menyebabkan posisi Islam (oleh sebagian kelompok) dianggap identik dengan terorisme” jelasnya lagi.

Meski temuan riset secara umum menunjukkan bahwa pemahaman, sikap, perilaku keagamaan mayoritas siswa berada pada titik bukan fundamentalis, simbolis dan bahkan radikalis, tetapi temuan riset ini juga menunjukkan adanya  potensi intoleransi dan fundamentalisme dalam cara berfikir beberapa siswa sebesar 10 %. Bahkan terdapat beberapa siswa yang menyatakan kesiapannya untuk melakukan ‘Jihad’ bom bunuh diri.