News

Nasab dan Silsilah Puang Ramma Dari Rasulullah, Salah Satu Tokoh Pendiri NU Sulsel

Allayarham+syekh+sayyid+djamaluddin+assegaf+puang+ramma+QSR

Nasab berarti al-qarābah, yakni hubungan keluarga secara biologis dari ayah, yang dalam al-Munjid disebutkan nisbatuhu ilā abīhi nasaban (dia dinisbatkan kepada ayahnya),sehingga dipahami bahwa nasab itu khusus pada keturunan seayah.[2] Penggunaan nasab dengan menyebut nama keturunan seayah, sesuatu yang disyariatkan sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Ahzab/33: 5, yakni ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقَسَطُ عنْدَ الله (sapahlah mereka dengan berdasarkan nama keturunan ayah mereka, itulah lebih adil di sisi Allah).

Untuk mengetahui turunan seseorang, selain menyebut nama ayah maka lebih jelas lagi bila tambahkan nama marga atau fam turunan ayah ke atas seperti Assegaf sebagai leluhur induk dari banyak keluarga Alawiyin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladawilah (generasi ke-22 dari Nabi saw), yang menurunkan ulama-ulama sufi besar bertaraf waliyullah dengan kharisma dan memiliki spiritual power luar biasa.

Nasab mereka melalui jalur Sayyidina Husein bin Ali Zawj Fatimah al-Zahrah binti Muhammad Rasululullah saw., salah satunya adalah Allahu Yarham Syaikh Sayyid al-Habib Kiai Haji Jamaluddin Assegaf Puang Ramma al-Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassari Qaddasallahu Sirrah, yang lebih akrab dengan sapaan Puang Ramma.

Dengan adanya fam Assegaf pada nama Puang Ramma berarti, beliau memiliki nasab secara biologis yang sampai pada Nabi saw. Selain itu terdapat lagi beberapa laqab (gelar khusus) sebagai simbol penghormatan mengawali namanya yakni syaikh, sayyid, habib, kiai, dan haji, memiliki makna spesifik sebagai tanda kemuliaannya.
Syaikh (شيخ) juga dapat ditulis syekh atau syeikh, adalah kata dari Bahasa Arab yang berarti kepala suku, pemimpin, orang yang dituakan, atau ahli agama Islam.

Sedangkan sayyid (سَيِّدٌ) berarti tuan memiliki beberapa pengertian antara lain, orang yang memiliki banyak pengikut, orang yang paling unggul diantara kaumnya, orang yang menjadi rujukan dalam urusan-urusan penting masyarakat dan orang yang memiliki pribadi luhur dan bijak.

Selanjutnya habib (حبيب) berarti ter-cinta, disenangi, kekasih dan yang dikasihi. Jika didahului huruf alīf dan lām (al-habib/الحبيب) maka dinisbatkan kepada Nabi saw., dan belakangan ini laqab tersebut dipakai juga oleh keturunan Nabi saw.
Khusus untuk laqab kiai, adalah gelar dari masyarakat yang diberikan kepada Puang Ramma yang dipandang alim atau pandai dalam bidang agama Islam dan karena ketinggian ilmu serta pemahaman keagamannya yang mendalam.

Di kalangan umat Islam, kiai identik dengan simbol keulamaan seseorang yang di Jawa disebut ajengan, atau di daerah Bugis disebut panrita yang akrab dengan sapaan nama anregurutta, atau anrongguru di kalangan masyarakat suku Makassar, dan annangguru untuk di daerah Mandar.

Adapun kata haji, yang juga melekat pada awal nama Puang Ramma, adalah gelar yang disandangnya setelah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, Mekah. Kata haji tersebut asal maknanya adalah ziarah, yakni mengadakan perjalanan ritual ke Masjidil Haram dengan tujuan beribadah kepada Allah swt, guna memenuhi kewajiban rukun Islam yang kelima.

Selanjutnya, untuk laqab atau gelar al-Khalwatiy Syaikh Yusuf al-Makassari yang mengikut pada nama Puang Ramma, adalah tarekat beliau yang sumbernya dari silsilah tarekat al-Khalwatiyah jalur versi Syaikh Yusuf al-Makassari. Silsilah tarekat ini, secara muttasil sampai kepada Nabi saw., ber-dasarkan ijazah yang diterima Puang Ramma dari guru-guru atau mursyidnya dengan urutuan sebagai berikut:

1) Sayyidul Mursalin Muhammad saw
2) Sayyidina Āli bin Abū Tālib Karramallahu Wajha
3) Sayyidina Hasan al-Bashriy
4) Sayyidina al-Gawśu Habīl al-Jami’
5) Sayyidina Dawud Atthai
6) Sayyidina Ma’rūf al-Karhi
7) Sayyidina Sirru al-Saqatiy
8) Sayyidina Junaid al-Bagdadiy
9) Sayyidina Munsyid al-Dīnūriy
10) Sayyidina Ahmad Aswad al-Dīnūriy
11) Sayyidina Muhammad bin Abdullāh
12) Umar bin Abdullah
13) Najib bin Abdullah
14) Sayyidina Muhammad al-Anhāriy
15) Syaikh Ruknuddīn al-Siyāsyiy Sahabuddin al-Thabrāsiy
16) Syaikh Sayyid Jamaluddin al-Thabrisiy
17) Syaikh Sayyid Ibrāhim al-Kaylāniy
18) Syaikh Sayyid Abdullah al-Syarwaniy
19) Syaikh Sayyid Affandiy Umar al-Khalwatiy
20) Syaikh Sayyid Yahya al-Syarwaniy
21) Syaikh Affandi Zubair al-Rūmiy Muhammad Anshriy
22) Syaikh Sayyid Abdullah al-Qarniy
23) Muhammad al-Anshari
24) Syaikh Sayyid Uwais al-Qarniy
25) Syaikh Sayyid Syamsuddin al-Rūmiy
26) Syaikh Sayyid Idrus al-Rūmiy
27) Syaikh Sayyid Ya’qūb al-Antabiy
28) Syaikh Sayyid Ahmad al-Rūmiy
29) Syaikh Sayyid Waliyyu al-Habiy al-Ajaniy
30) Syaikh Sayyid Ahmad bin Umar
31) Abu Barakah Ayyub al-Khalwatiy
32) Syaikh Sayyid Yusuf Abu al-Mahasin Taju al-Khalwatiy al-Makassariy
33) Syaikh Abū al-Fathi Abdul al-Bashīr al-Dhahir al-Khalwati Tuan Rappang
34) Abū al-Sa’ad al-Fadhil
35) Syaikh Abdul Majib Nuruddin Ibn Abdillah
36) Sayyid Abdul Gaffar al-Saqqaf
37) Sayyid Muhammad Zainuddin al-Saqqaf
38) Sayyid Ali al-Saqqaf
39) Sayyid Hasan al-Saqqaf
40) Sayyid Ibn Hajar al-Saqqaf
41) Sayyid Abdul Malik al-Saqqaf
42) Sayyid Jamaluddin al-Saqqaf Puang Ramma
43) Sayyid A. Rahim al-Saqqab Puang Makka.[4]

Dalam silsilah di atas, marga Assegaf disebut dan ter-tulis al-Saqqaf pada nama Puang Ramma, sebagaimana telah dikemukakan marga ini dari keturunan Nabi saw., golongan Alawiyyin. Mereka dari Hadramaut menyebarkan Islam sambil berdagang di Nusantara pada abad ke-17, yang sampai sekarang telah melahirkan banyak keturunan dan menetap di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Makassar.

Selain Assegaf masih ditemukan fam lain yang senasab, atau sama-sama memiliki silsilah dari Nabi saw., seperti al-Alawiy, al-Aydrus, Shahab/Shihab, al-Qutban, al-Musawa, al-Fakhir, al-Hamid, al-Humaid dan selainnya. Fam atau marga ini, menyertai nama mereka dan telah mentradisi terutama di kalangan ulama sufi.

Tulisan : KM Mahmud Suyuti

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top