Opini

Mengapa HTI Berseberangan Dengan NU?

Mahmud-Suyuti

oleh : Mahmud Suyuti, Sekretaris Dewan Penasehat GP Ansor Sulsel.

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), salah satu kelompok organisasi yang menghimpun umat Islam dengan pemahaman yang fundamental dan radikal, berusaha keras menegakkan khilafah sejak tahun 1953 di al-Quds oleh Taqiy al-Din al-Nahbani, alumnus al-Azhar, mantan pengikut Ikhwanul Muslimin.

Tujuan utama didirikannya HTI berusaha untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam di kawasan Arab. Dari sanalah tujuan untuk melangsungkan kehidupan Islam di seluruh dunia Islam, yaitu dengan cara mendirikan daulah Islamiyah dengan sistem khilafah yang merujuk pada pemerintahan pasca wafatnya Nabi saw, zaman sahabat Nabi saw, dinasti Umayyah dan Abbasiyah yang telah tiada, telah ditenggelamkan oleh zaman setelah berhasil menebarkan sayap Islam ke berbagai negara di penjuru dunia, khususnya di Indonesia.

Aktivis HTI tidak sama dengan aktivitis Nahdlatul Ulama (NU) terutama organisasi sayap NU, GP Ansor dan Bansernya yang berjuang mati-matian, berjihad memerdekakan Indonesia dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sampai pada akhirnya ikut serta menumpas PKI.

HTI, tidak pernah merasakan betapa pahit dan getirnya berjihad melawan penjajah, tidak terlibat dalam memperjuangkan dan menegakkan NKRI, tiba-tiba belakang muncul dengan ide-idenya untuk menegakkan khilafah di Indonesia, seakan-seakan tidak menghargai jasa para pendiri negara tercinta ini, bertentangan dengan solusi jihad, hubbul wathan minal iman (cinta tanah air/negara bagian dari iman).

GP Ansor yang didirikan sejak tahun 1934, jauh lebih tua ketimbang dengan HTI yang baru muncul tahun 1980-an di negara ini, sehingga dari segi pengalaman beragama, berbangsa dan bernegara GP Ansor lebih matan ketimbang HTI yang tiba-tiba kemunculannya itu membawa ide menghendaki diberlakukannya hukum Allah di Indonesia dan menentang hukum tagut yang dianggapnya diberlakukan di negeri ini. Sementara GP Ansor sejak merdekanya republik ini telah mengawal keberlakuan syariat Islam dan menentang pemerintahan tagut.

Buktinya, GP Ansor yang selain menjadikan Al-Qur’an, hadis, dan ijtihad sebagian dasar berbangsa dan bernegara juga menjadikan Pancasila yang lima dasar itu, Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan dan Kadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak ada satupun yang bertentangan dengan syariat Islam. Butir-butir dan tafsiran pancasila tidak mengandung hukum tagut.

Syariat Islam melalui resolusi jihad ditegaskan hubbul wathan minal iman (cinta terhadap negara, bangsa dan tanah air bagian dari iman) yang dengan itulah seperti HTI atau kelompok lain yang menginginkan negara ini berdiri dengan sistem khilafah, berhati-hatilah karena menyalahi prinsip keimanannya.

Hati-hatilah karena menyalahi konsep dan sistem kenegaraan Madinah yang dibangun dan dipimpin Nabi saw, semua penduduk Madinah dengan berbagai macam agama, ras dan suku dilindungi oleh syariat Islam berdasarkan piagam Madinah, mereka hidup aman damai dan sejahterah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, baldatun thayyibatun wa rabbun gafur.

Demikianlah bentuk negara ideal dalam konsep syariat Islam yang dikonseptualkan oleh NU dan dipejuangkan oleh GP Ansor, bukan sistem khilafah sebagaimana yang diperjuangkan HTI. Namun rupanya HTI ini sudah menyusup mengajak pada kiai NU dan GP Ansor untuk memperjuangkan khilafah.

Beberapa kiai NU mengaku belakangan ini didatangi aktivitis HTI untuk ikut paham mereka dan mendukung cita-citanya tetapi dengan tegas dan berani kiai tersebut menjawab “saya ini NU, tak mungkin ikut paham sampean”.

Beberapa pengurus NU di berbagai daerah juga mengaku sering mendapat pengaduan soal aktivitis HTI yang berusaha mempengaruhi warga Nahdliyyin, tetapi dengan berani mengatakan tidak akan terpengaruh. Karena itu, HTI, hati-hatilah.

Wallahul Muwwafiq Ila aqwamit thariq

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top