Perkembangan teknologi yang sedemikian pesatnya menggiring paradigama masyarakat  pada era yang lebih kompleks, perbincangan masyarakat mengarah pada perbincangan yang kontra produktif. Tanpa menunjang kemajuan, kini media dipandang sebagai otoritas yang dapat mendefinisikan segala hal dan menjadi tolak ukur kebenaran untuk semua manusia, masih segar pada ingatan kita semua bagaimana media Efek melahirkan Jokowi efek dan bagaimana peran andil  media sosial dalam memberikan  citra yang sangat baik sehingga melambungkan popularitas Jokowi hingga menjadi buah bibir masyarakat pada saat itu, yang pada akhirnya berkat peran media pulalah membuatnya berhasil menduduki kursi kepresidenan Indonesia saat ini.

Hal tersebut hampir sama ketika gelombang aksi di tahun 2016 kemarin yang disimbolkan dengan beberapa angka keramat sehingga berhasil mengsugesti gelombang gerakan massa yang menduduki beberapa daerah di Indonesia kususnya Ibu kota DKI Jakarta yang menjadi sentrum gerakan massa terbesar kala itu. Saya yakin dan percaya gerakan gelombang massa tersebut tidak akan serame dan sebesar itu jikalau tanpa propaganda yang massif melalui media khusunya media sosial, sebab dengan memanfaatkan media sosial sang inisiator dan simpatisan aksi melakukan penyebaran informasi yang massif bernuansa ajakan yang memenuhi setiap layar media sosial dengan seruan-seruan profokatif menyangkut keyakinan sehingga menyulut amarah yang tak terkendali menjadikan aksi tersebut menjadi sedemikian besarnya.

Masyarakat Dalam Ambivalensi
Akibatnya setelah itu masyarakat Indonesia mengalami ambivalensi, salah satu dampak laten yang terjadi akibat hal tersebut ialah fenomena debat kusir di sosial media, ujaran kebencian, saling salah-menyalahkan, kafir mengkafirkan, menyebar berita hoax atau fake (bohong) hingga memicu ketersingungan yang mengarah pada saling lapor-melapor kepolisian, perdebatan di media sosial cukup tidak prosuktif sebab cenderung jauh dari pandangan Ilmiah baik argument yang sifatnya filosofis dan teologis,  Lahirnya para pembelajar dari media sosial mengkonsumsi pengetahuan secara instan tanpa sumber yang jelas membuat lingkungan berpengetahuan semakin gaduh sebab matinya kesadaran refrensial memporak-porandakan bangunan pengetahuan yang telah lama menjadi khazanah keilmuan manusia.

Media yang sejatinya ketika dimanfaatkan dengan baik  dapat menunjang penyebaran  Informasi yang membangun nalar kemajuan di tengah-tengah masyarakat kini membelok bias tanpa arah tujuan,  Media informasi secara umum dibangun dari kepentingan Ideologis, politik dan ekonomi memanfaatkan kemudahan mengakses dan menyebarluaskan informasi demi tujuan tertentu, penyebaran informasi yang mengucur deras pada  seluruh lapisan masyarakat memicu sentiment Ideologis, rasis dan keyakinan. Kini Hidup bagaikan berputar jauh kembali pada sejarah masa lalu dimana hal-hal yang dahulunya telah usai kini kembali menjadi pusat pembahasan, perdebatan hingga melahirkan konflik bahkan peperangan yang akhirnya lagi-lagi berakhir tanpa solusi akhir.

Kesimpulannya ialah Bahwa kita tidak pernah mengevaluasi diri kita dari sejarah kelam masa lalu yang selalu berputar mengitari masalah-masalah yang tak berarti untuk kemajuan kehidupan Manusia, pada tingkatan masyarakat kita ada beberapa golongan yang masih latah melihat perbedaan, berperspektif sempit pada realitas,    sebab kita masih sulit menerima perbedaan yang telah menjadi fitrah manusia, kita juga seharusnya mengevaluasi diri seberapa bijak kita menggunakan akun  media sosial yang kita miliki dalam  menyebar informasi untuk sesuatu hal yang lebih bermanfaat,  nalar kritis dalam memverifikasi informasi sebaiknya harus kita galangkan kepada diri kita dan masyarakat luas agar diri kita dan masyarakat tidak menjadi korban dari akses media sosial yang mudah akan tetapi menjadi ancaman terhadap kedamaian kita semua, faktanya kita  telah kehilangan jati diri kita sebagai bangsa yang majemuk, arif, bersahabat, welas asih dikarenakan mental kita yang mudah tersudutkan terhadap informasi yang belum pasti akar dan sumber kebenaranya.

Penulis: Muhammad Qadri (Ketua PMII Komisariat UIT Cabang Makassar)