Artikel

Akar Spiritual Muslim di Australia (2 Selesai)

FB_IMG_1466358842682_1466359553320


Oleh

Mahmud Suyuti

Ketua PW MATAN Sulsel

Anwar Tashibo menyatakan bahwa di Canberra, terdapat mesjid-masjid yang dibangun oleh kedutaan besar Indonesia, Malaysia, dan pakistan, yang peresmiannya berlangsung pada tahun 1961. Pada setiap hari Sabtu dan minggu diadakan pengajian anak-anak dan orang dewasa. Di Victoria, terdapat tujuh buah mesjid, di antaranya mesjid Prstan (Islamic Centre) dan mesjid Umar bin Khattab, yang di-lengkapi dengan kantor, ruang pertemuan, ruang perpustakaan, ruang belajar, dan ruang serba guna. Masjid-masjid ini, selain digunakan untuk salat Jumat dan berjamaah lainnya, juga digunakan sebagai pusat kegiatan pendidikan dan dakwah. Di Kepulauan Chistmas, juga lebih maju dalam pengetahuan dan pendidikan Islamnya. Di Queesnland, terdapat empat mesjid dan beberapa organisasi Islam. Sekitar 500 orang imigran Indonesia dan di sana ada sebuah Islamic Centre. Di Northen Territory, 

William E. Sheppard dalam Ensiklopedi Oxford; Dunia Islam Modern menyatakan bahwa meskipun kaum muslim telah hidup di Australia selama lebih dari seabad, namun komunitas Islam di sana baru berkembang sejak tahun 1950. Ini berarti bahwa kehidupan spritual mereka juga mengalami perkembangan yang siginifikan sejak tahun itu, sampai dewasa ini.

Seiring perkembangan tersebut, kegiatan dan aktivitas organisasi keagamaan pun terus menggeliat. Saat ini, masing-masing negara bagian telah memiliki dewan masyarakat muslim, pusat kebudayaan Islam, asosiasi pelajar muslim, sementara di tingkat nasional, keberadaan federasi komunitas muslim Australia sudah ada sejak tahun 1964. Organiasi inilah yang menjadi payung hampir semua asosiasi dan perkumpulan komunitas umat Islam di Australia. Organisasi ini telah berubah nama menjadi “Dewan Muslim Australia” dengan sekitar 70 afiliasi organisasi muslim yang tersebar di seantero Australia.

Konseptual spritualisme dan atau termasuk aliran/tarekat kesufian sangat beragam, namun penulis tidak dapat memastikan aliran mana yang paling menonjol. Jelasnya bahwa keadaan umat Islam di sana telah mengisyaratkan adanya esensi kehidupan spiritual.

Sebagian dari muslim dan muslimah bule berlatar belakang Kristen di Australia bahkan menjadi para pendakwah dan penulis Islam seperti Shifa Mustafa, Silma Bucley, Jameela Ahmed, Jamila Husain, Aminah Abdullah, dan selainnya. Kini banyak orang Islam bule Australia mengamalkan Islam. mereka mendobrak mitos bahwa muslim Barat tidak bisa menjadi muslim yang lebih baik daripada orang yang sejak lahir muslim.

Di kisahkan bahwa Aminah (muallafah) adalah guru ngaji bagi beberapa kelompok wanita muslim di Australia, termasuk kelompok usrah di Monash, ia memberikan ceramah mengenai Islam kepada komunitas kampus di Monash University Islamic Sciety (MUIS). Di kampus ini, ia menuturkan perjalanan spiritualnya dalam menemukan Islam. Menurutnya, dalam usia belasan tahun dua kali ia bepergian jauh sendirian, untuk mencari pen-cerahan mengenali jati diri dan tujuan hidupnya. Ia ke Eropa, selanjutnya ia ke Mesir dan ketika keluar dari pesawat perasaan spiritualnya begitu dahsyat ketika mendengar suara azan, dan di Mesir inilah ia mengucapkan kalimat syahadat. Pengalaman spiritualnya ini, ia ceritakan di kampus MUIS dalam upaya menggugah roh spiritual peserta pengajian yang hadir. Dengan otobiografi dramatik Aminah tersebut tentu sangat menyentuh, kalau tidak disebut mengharukan dapat membangkitkan nilai spritual dalam kehidupan umat Islam di Australia. Praktis bahwa semakin meningkat pula kesadaran dan kebanggaan mereka memeluk Islam.

Mahasiswa Indonesia yang datang dan belajar di Australia, bukan saja sekedar sebagai penonton dan pengamat, melainkan sebagai aktor yang mengamalkan Islam. Mereka bangkit dalam mengenal Islam. Mereka merasa kedatangannya di negara tersebut bukan hanya mengemis ilmu, tetapi mereka menghidupkan spiritual Islam dan menyebarluaskannya kepada orang-orang lain. Praktek kehidupan spiritual mereka bukan saja dalam batas menjalankan ibadah shalat, zakat, puasa, tetapi juga menjalankan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima.

DR. Fachry Ali salah seorang alumni Monash University Australian menyatakan bahwa ketika teman-temannya dari Australia ke Tanah Suci melakukan ibadah haji, terbetik kegembiraan yang mendalam. Lebih lanjut, Deddy Muliyana, menyatakan bahwa Kang Jalal (Prof. DR. Jalaluddin Rahmat. Pen) ketika sedang studi Doktor di Australian National University, ia sempat menunaikan ibadah haji bersama isterinya melalui visa Australia. Dari kenyataan-kenyataan dan pengamalan-pengalaman mereka ini, maka dapat dipahami bahwa pelaksanaan ajaran Islam di Australia tetap terwujud, dan hal ini merupakan bukti bahwa nilai-nilai spiritual Islam senantiasa terimplemtasi dalam kehidupan mereka dengan baik.

Lebih dramatik lagi, adalah perjalanan spiritual Maryati Idris mahasiswi Monash asal Makassar yang mempelajari sastra Rusia. Pada mulanya, ia biasa berjins dan tertawa lepas di depan pria. Kini, ia meng-gunakan jilbab, dan sering menunduk bila terpaksa berbicara dengan pria. Jilbab adalah salah satu atribut keislaman dan sekaligus sebagai wujud implementasi kekuatan spritual pada dirinya.

Dapat dikatakan bahwa kehidupan spiritual muslim di Australia, terus menggeliat. Hal tersebut dikarenakan adanya sarana dan prasarana pengembangan Islam yang tidak lepas dari peranan organisasi-organisasi Islam. Di samping itu, pendidikan Islam dan sarana peribadatan misalnya mesjid yang terus bertambah.

Adanya sarana dan prasarana, pelaksanaan ajaran Islam berjalan dengan baik karena adanya legitimasi dari pihak pemerintah Australia yang memberikan kewenangan kepada kaum muslim untuk menjalankan ajaran agamanya, selama tidak mengganggu ajaran-ajaran agama lain, khususnya katolik yang mayoritas. Dengan begitu umat Islam secara pro-aktif dan efektif menjalankan ajaran-ajaran Islam, mereka melaksanakan shalat zakat dan puasa tanpa kendala, bahkan ibadah haji pun dapat dilaksanakan melalui visa Australia.

Kehidupan spritual keislaman yang patut diteladani di Australia adalah realiasi ajaran Islam secara kaffāh, dalam hal ini mereka membina hubungan silaturrahim dengan baik. Mereka mengadakan interaksi sosial yang ramah, mereka memperdalam agamanya dalam bentuk pengajian. Mereka menganggap bahwa Islam yang diyakininya mesti dihidupkan dan dikembangkan serta disebarluskan kepada orang lain. Mereka merasa akan sangat rugi dan kehilangan banyak waktu bila kejayaan dunia menjadi sasaran utama.

Akar spiritualisme Islam di Australia berkembang melalui kegiatan pendidikan Islam di lingkungan sekolah dan perguruan Tinggi, serta terlaksana kegiatan pendidikan di mesjid-mesjid melalui pengajian-pengajian keislaman di lingkungan masyarakat. Khusus kKehidupan spiritual umat Islam di Australia, dapat dilihat dalam beberapa aspek, yakni antara lain aktifnya mereka dalam organisasi keagaman sebagai tempat pengayaan spiritualnya mereka menjalankan ibadah shalat, zakat, puasa, haji dengan baik, mereka juga menggunakan simbol-simbol keislaman semisal jilbab bagi kaum muslimah, termasuk memberi nama-nama yang bernuangsa Islam bagi anak-anak mereka, dan umat Islam di Australia membina hubungan silaturrahim mereka dengan baik, Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

Editor: Fadlan

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top