News

Kisah Lailatul Qadar Turun Jemput Imam Lapeo di Campalagiang

imam-lapeo_20160629_224657

Selain di Mangkoso Kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru Sulawesi Selatan (Sulsel), Lailatul Qadar juga diyakini pernah turun di Lapeo, Kecamatan Campalagiang Sulawesi Barat (Sulbar).

Lailatul Qadar diyakini mendatangi Anre Gurutta Haji (AGH) Ambo Dalle saat sedang iktikaf di Masjid Mangkoso pada tahun pertama pembukaan pondok pesantren, 1939. Tiga belas tahun kemudian, Lailatul Qadar datang menjemput Imam Lapeo di Campalagian, waktu itu masih dalam wilayah Sulsel, tahun 1952.

Mantan Ketua Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Unhas, (almarhum) As’ad Bua sering menyampaikan kisah Lailatul Qadar turun menjemput Imam Lapeo.

Menurutnya, Imam Lapeo menghembuskan nafas terakhir dengan tenang dalam usia 114 tahun, pada hari Selasa, tanggal 17 Juni 1952 di Lapeo, bertepatan 27 Ramadhan 1362 H.

“Malam itu, suasana sangat tenang tanpa hembusan angin di Lapeo. Segala benda, alam dan pepohonan rebah sujud, seberkas cahaya menerobos kegelapan. Imam Lapeo mengalami malam Lailatul Qadar dan keesokan harinya beliau wafat,” kata As’ad Bua, suatu ketika di Fakultas Sastra Unhas.

Malam itu, Imam Lapeo diyakini “sudah tiada” di dunia fana. Sejumlah masyarakat yang pernah mengangkat jenazah Imam Lapeo ke halaman masjid Imam Lapeo tempat pemakaman, mengaku, seakan hanya mengangkat kain kafan, sangat ringan.

Salah seorang cucu Imam Lapeo, Ahmad Arfah Mubasyarah, mengaku tidak tahu banyak tentang kejadian spiritual kakeknya itu. “Saya juga hanya mendengarnya dari beberapa orang, termasuk dari dosen saya di Fakultas Sastra itu,” ujar Arfah, yang juga Alumnus Sastra Arab Unhas, Rabu (29/6/2016) malam.

Makam Imam Lapeo di sisi utara Masjid Nuruttaubah di Lapeo, lebih disebut dengan sebutan ‘Masigi Lapeo’ hingga kini masih menjadi tujuan ziarah dan wisata spiritual di Sulbar.

Masjid itu dikenal dengan menaranya menyerupai arstitektur Istambul, sehingga Imam Lapeo juga disapa dengan nama “Kanne Ambol”, yakni orang yang pernah menngunjungi Istambul, peralihan sebutan Istambul ke Ambol. Selain makna lainnya, “Ambol”, yakni jangan coba-coba bertetangan dengan Imam Lapeo, nanti mendapatkan teguran secara langsung.

Imam Lapeo lahir dengan nama unik, Junaihin Namli, yang berarti sayap semut, di Pambusuang Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, tahun 1838. Dikenal sebagai ulama kharismatik, penyebar ajaran Islam di Sulselbar khususnya di Tanah Mandar

Saat menyebar Islam, dikenal sebagai KH Muhammad Thahir atau yang lebih masyhur Imam Lapeo. Nama Lapeo yang melekat pada Imam Lapeo diambil dari nama kampung di Kecamatan Campalagian, sekira 287 KM dari Makassar dan 33 KM dari Kota Polewali.

Selain silsilahnya bertalian dengan bangsawan di Mandar, nasab dalam diri Imam Lapeo bersambung hingga Sunan Maulana Malik Ibrahim, salah seorang wali Walisongo yang menjadi penyebar agama Islam di Gresik.

Dalam buku tentang perjalanan hidup Imam Lapeo yang ditulis Syarifuddin Muhsin, (cucu Imam Laepo) ada puluhan karomah (kelebihan) dalam kisah hidup Imam Lapeo yang berkemang di tengah masyarakat dan keluarganya.

Sebagian diantaranya, menjadi khatib dan Imam shalat Jumat di tempat berbeda, menyelamatkan orang tenggelam, membayar utang dalam keadaan terjepit dan lainnya.

Juga dalam buku Jejak Kewalian Imam Lapeo yang ditulis oleh cicitnya, Zuhriah, peran Imam Lapeo, tidak terlepas dengan akhlak (karakter) hingga karamah kesufian yang ada pada dirinya mampu memberi berkontribusi penting bagi perbaikan tatanan masyarakat.

Menjelang wafatnya, Imam lapeo berpesan supaya disediakan batang pisang sebelah menyebelah (pihak kanan dan pihak kiri) sebagai tempat bersandar saat berbicara dengan mungkar-nakir. Pesan itu sebagai isyarat Imam Lapeo akan mangkat.

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top