MAKASSAR – Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, KH Nasaruddin Umar meminta warga Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) Sulsel agar menegaskan pesan Islam Rahmatan Lilalamin ditengah bahaya radikalisme agama yang mengancam Indonesia.

Menurut mantan Wakil Menteri Agama ini, warga PMII dan Nahdlyyin secara umum, harus pula cermat membaca situasi yang terjadi di Timur Tengah. Jangan sampai Islam Rahmatan Lilalamin yang selama ini diajarkan oleh ulama-ulama Nusantara ini, tatanannya jadi rusak karena hadirnya penetrasi kelompok Islam yang bernuasa garis keras.

Pesan ini disampaikan pengiat tasawwuf dan sufistik ini, saat mengisi sambutan dalam gawean Maulid Tradisi PMII dan Syukuran Pembangunan tahap I Wisma Pergerakan. di jalan Andi Tondro, Makassar, Minggu (25/12/2016).

Para ulama dan pesantren tradisional yang berpegang pada model Islam Rahmatan Ilalamin, sangat cocok dan humanis dalam kehidupan beragama dan berbangsa di Indonesia.

“PMII sebagai laboratorium kader Islam moderat perlu mengambil peran aktif, perlu banyak membaca hal, termasuk membaca kondisi geopolitik international, geopolitik asia tenggara-asia timur, regional dan nasional, agar memahami apa dan bagaimana mesti bersikap sebagai intelektual muslim yang mencerahkan dan menyejukkan,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan terkait informasi 700 orang lebih mantan anggota militan ISIS, telah kembali ke tanah air, dan kebanyakan diantaranya juga berasal dari Sulsel. dan akan kembali lagi sekitar 2000 orang mantan anggota organisasi teroris ini.

Nasaruddin berpandangan, mantan militan ISIS tersebut, akan sulit meninggalkan faham dan ajaran yang mereka yakini, disatu sisi tidak mungkin bisa menolak mereka hadir.

“Yang mesti dilakukan adalah membentengi umat dari pemikiran radikalisme yang mereka anut, jika kemungkinan mereka akan tetap sebarkan di sekeliling mereka,” katanya.

Pada kondisi ini, peran kader Islam yang moderat untuk mengajarkan Islam yang damai, Islam yang dapat menjahit keutuhan hidup berbangsa dan bernegara.