Khilafah adalah salah satu issu yang marak disuarakan ditubuh bangsa Indonesia. Wacana ini sangat intens dilontarkan oleh saudara-saudara kita yang cendrung memiliki pemikiran islam kanan. Hizbut Tahrir merupakan salah satu organisasi yang selalu mengumandangkan wacana tersebut. Gerakannya banyak dilakukan dalam lingkungan kampus.

Hizbut Tahrir adalah partai politik islam yang bertujuan membangun paham-paham keislaman dan aturan-aturannya dan menyebarkannya pada orang banyak, serta berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendirikan negara dalam bentuk khilafah islamiyah. (al-Mausu’ah al-Muyassarah, jus 1 hal 341)

Pendiri Hizbut Tahrir ialah Syeikh Taqiyyuddin Annabhani (1297-1326 H/ 1908-1977 M) di Palestina. (al-Mausu’ah al-muyassarah Jus 1 hal 341). Hizbut Tahrir didirikan pada tahun 1952 M, dengan aktifitas menerbitkan buku-buku dan brosur sebagai sumber ajaran dari hizbut tahrir. Pendiri hizbut tahrir berpindah-pindah dari Yordania, Syiria, dan lebanon. Namun wafatnya Sang Pendiri itu di Bairut.

Sebagian gerakannya dilakukan dalam bentuk dakwah islam. Tidak jarang pula kelompok tersebut melakuan aksi demonstrasi di jalan terhadap issu-issu aktual dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa aksinya sering menyuarakan mengenai konflik di Timur Tengah. Seperti konflik Palestina dan Suriah. Aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap kaum muslim di Negara tersebut.

Hizbut Tahrir Indonesia, selain memiliki impian mendirikan Negara Khilafah, juga memiliki solidaritas lintas Negara yang cukup tinggi. Syariat Islam merupakan aturan yang akan diterapkan dalam bernegara, tentunyan dengan mengganti Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar Negara dan aturan Negara.

Hizbut Tahrir Indonesia berpandangan bahwa Indonesia milik Allah, untuk itu Syariat Islam harus diterapkan dalam Negara. Mereka menolak Pancasila sebagai asas tunggal dalam Negara Kesatuan Republik Indonesi, kerena dianggap multitafsir. Pencasila belum menjadi solusi disetiap permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Demokrasi pun tidak luput dari penolakannya, karena dianggap menistakan rakyat.

Tulisan ini akan berusaha menelisik sudut pandang Kaum Pergerakan atau yang dikenal sebagai Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia terhadap Khilafah. Oganisasi dengan tujuan terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Artinya, Kaum Pergerkan sangat menjunjung tinggi Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pandangan Kaum Pergerakan berbedah dengan pamahan teman-teman yang tergabung dalam Hizbit Tahrir Indonesia mengenai Pancasila. Pada hal kedua organisasi ini sama-sama menganut paham keislaman. Lalu dimana perbedaan kedua organisasi ini dalam melihat Pancasila?

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia bersifat keagamaan, kemahasiswaan, kebangsaan, kemasyara-katan, independen, dan profesional. Sifat tersebuat membuat PMII sebagai salah satu organisasi yang paling terdepan dalam menjaga cita-cita kemerdekaan Indonesia tanpa mengabaikan nilai-nilai keislaman. PMII didirikan di Surabaya pada tanggal 21 Syawal 1379 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 17 April 1960 M dengan menjadikan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sebagai manhaj al-fiqr atau landasan berpikir.

Al-sunnah memilki arti jalan,disamping memiliki arti Al-Hadist. Disambungkan dengan ahl keduanya bermakna pengikut jalan Nabi, Para Sahabat, dan Tabi’in. Al-Jama’ah berarti sekumpulan orang yang memiliki tujuan. Bila dimaknai secara kebahasaan, Ahlussunnah wal Jama’ah berarti segolongan orang yang mengikuti jalan Nabi, Para Sahabat dan Tabi’in.

Pemahaman Aswaja ini diadopsi dari Nahdatul Ulama yang merupakan Organisasi Masyarakat islam pertama kali di Indonesia yang menegaskan diri berpaham Aswaja. Konstitusi dasar yang dirumuskan oleh KH. Hasyim Asy’ari juga tidak disebutkan definisi Aswaja namun tertulis dalam konstitusi tersebut bahwa aswaja merupakan sebuah paham keagamaan dimana dalam bidang aqidah menganut pendapat dari Abu Hasan Al-Asy’ari dan Al- Maturidhi, dalam bidang fiqih menganut pada salah satu madzhab empat, dan dalam bidang tasawuf menganut pada Imam Junaid al Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghozali.

Kaum Pergerakan memandang bahwa aswaja adalah orang-orang yang memiliki metode berfikir keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan dengan berlandaskan atas dasar moderasi, menjaga keseimbangan, dan toleran. Aswaja bukan sebuah madzhab melainkan sebuah metode dan prinsip berfikir dalam menghadapi persoalan-persoalan agama sekaligus urusan sosial kemasyarakatan, inilah makna aswaja sebagai manhaj al fikr. Sebagai manhaj alfikr, Kaum Pergerkan berpegang pada prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tawazun (netral), ta’adul (keseimbangan), dan tasamuh (toleran).

Metode berpikir tersebut membuat Kaum Pergerakan berpandangan bahwa penerapan Khilafah dan Syariat Islam tidak sesuai untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini bukan kerena Pancasila diletakkan lebih tinggi dari pada Al-Qur’an, tapi lebih kepada aspek sosial atau kemaslahatan umat manusia yang hidup dalam bangsa ini. Indonesia merupakan Negara yang memiliki penduduk yang heterogen dan latarbelakan keberagaman berbedah-bedah.

Perbedaan tersebut merupakan sunnatullah yang harus disikapi dengan prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tawazun (netral), ta’adul (keseimbangan), dan tasamuh (toleran). Prinsip tersebut terkandung dikelima sila dalam Pancasila, alasan inilah yang membuat Kaum Pergerakan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia dengan menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi.

Perlu dipikirkan kembali mengenai Islam dan Pancasila bahwa bukanlah Islam yang mengikuti Pancasila, tapi pada hakekatnya nilai-nilai dalam Pancasila adalah ajaran Islam yang diadopsi menjadi kelima sila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini didasarkan atas kemaslahatan umat manusia dalam berbangsa dan bernegara seperti yang telah dijelaskan di atas.

Penulis : Muhammad Aras Prabowo
Mahasiswa Pascasarjana Univesitas Mercu Buana Jakarta