News

Kemunduran Gerakan Aktivis Mahasiswa

WhatsApp Image 2017-08-25 at 05.02.36

OPINI : MUH. BASRI L
Mantan Ketua PMII Cabang Makassar

Mahasiswa merupakan jenjang tertinggi dari tingkat seorang pelajar. Mahasiswa mempunyai andil besar dalam kemajuan atau kemunduran suatu negara karena Mahasiswa dikenal cerdas, kritis, konseptor serta idealis dalam berfikir yang membuat mereka di segani oleh pemerintah ditambah gerakan-gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa sangat produktif dalam mengawal kebijakan- kebijakan pemerintah sehingga kenal di lingkungan masyarakat mahasiswa adalah seorang aktivis yang pro dengan rakyat.

Seperti yang telah tercatat oleh sejarah gerakan mahasiswa Indonesia bahwa Mahasiswa pada tahun 1974 melakukan gerakan yang dikenal dengan Malari (Malapetaka 15 Januari) di Jakarta, pada tahun 1996 Amarah ( April Makassar berdarah ) di Makassar dan yang sangat terkenal Runtuhnya rezim Orde Baru ke era reformasi yang dilakukan oleh gerakan aktivis mahasiswa yang begitu massif.

Lalu bagaimana aktivis Mahasiswa sekarang di tengah kodratnya yang begitu berat menjadi agen of change, iron stock, social of control dan moral force? Di era terbuka saat ini, Kodrat itu semakin hari semakin terkikis oleh pengaruh teknologi sosial yang sangat berpengaruh di kalangan masyarakat Indonesia.

Kodrat-kodrat aktivis mahasiswa sekarang di ambil alih oleh media yang lebih perpengaruh dalam kemajuan bangsa, diambil alih Organisasi Masyarakat ( Ormas ) dalam mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, diambil alih oleh kalangan pengusaha muda untuk menjadi generasi selanjutnya dalam membangun bangsa yang ditandai banyaknya pengusaha muda yang masuk parlemen dan dunia politik.

Lalu apa penyebabnya sehingga mulai mundurnya peran aktivis Mahasiswa dalam proses dinamika kemajuan bangsa?
Di era terbuka saat ini, tidak sulit sebenarnya mahasiswa mendapatkan informasi atau pun komunikasi sesama aktivis Mahasiswa di seluruh Indonesia. Inilah salahsatu penyebabnya, kurangnya aktivis memanfaatkan media sosial sebagai penyambung dan pemersatu gerakan dalam pengimplementasian kodratnya sebagai mahasiswa ditambah masih saling curiga-mencurigai dalam gerakan yang dilakukan aktivis satu dengan aktivis lainnya dalam mengawal kebijakan tertentu sehingga pola gerakannya tidak semassif era 1998.

Faktor lainnya adalah ketika melakukan gerakan lebih berfokus pada ke-eksis-an lembaga atau pribadi dibanding dengan sampainya aspirasi tersebut ke pihak yang dituju. Contohnya saja, Lebih bangga upload foto melakukan demonstrasi ke media sosial dibanding dengan bangga ketika aspirasi tersebut dapat merdampak baik di masyarakat.

Dan faktor yang terakhir adalah sistem pendidikan di tingkatan Mahasiswa lebih cepat dibanding era 1974 ataupun 1998 padahal belum sempat mematangkan pola fikir dari segi akademik maupun dari segi kritis untuk kalangan aktivis tapi “dipaksa” oleh keadaan untuk segera menyelesaikan jenjang study padahal belum menjamin mereka setelah selesai dapat terjun langsung di dunia kerja atau menjadi seorang pengangguran bertoga.

Seperti halnya yang diharapkan aktivis Mahasiswa Indonesia segera “bangun dari tidur lelapnya” dan melakukan tugasnya sebagai kaum yang terkenal karena idealisnya dalam berfikir dan bertindak untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai.

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top