News

Kala Para Wali Berangkat Haji

Ini%2BPenyebab%2BDoa%2BTak%2BKunjung%2BDikabulkan%2BOleh%2BAllah%2BSWT

Memang sulit memastikan kapan orang-orang di Nusantara mulai pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Yang dapat diketahui hanyalah dari berbagai sumber cerita tradisi lisan, tentang perjalanan haji para Wali Songo yang kemampuannya berbeda dengan rakyat biasa.

Misalnya dalam Babad Tanah Jawi disebutkan Raden Paku atau Sunan Giri dan Makhdum Ibrahim, kelak dikenal dengan nama Sunan Bonang yang pernah disusul oleh Sunan Kalijaga sampai ke Pulau Upih (Malaka). Ia bermaksud hendak pergi ke Makkah menunaikan ibadah haji.

Tetapi sampai di Malaka mereka berjumpa dengan Syekh Wali Lanang (Maulana Ishak). Setelah diajari pengetahuan agama Islam, ia diperintahkan kembali ke Jawa. Raden Paku lebih cepat tiba tiba di Jawa daripada Makhdum Ibrahim karena Raden Paku menurut cerita rakyat punya kelebihan dapat berjalan di atas air.

Di Pulau Upih, Sunan Kalijaga berguru keada Syekh Sutabris dan kemudian disarankan agar kembali ke Jawa untuk melengkapi jumlah Wali Songo. Pendapat lain dari Serat Kendaning mengatakan Sunan Kalijaga pergi haji ke Makkah bukan menyusul Sunan Bonang, tapi kepergiannya untuk menyempurnakan pengetahuan yang selama ini telah dimilikinya, sekaligus menunaikan rukun Islam ke lima.

Tidak dijelaskan juga bagaimana pawa wali ini mengarungi samudra saat akan menunaikan ibadah haji dan tiba di Tanah Suci. Hal inilah yang membuat banyak cerita-cerita fiksi yang menyebut para Wali Songo pergi berlayar menggunakan kekuatan di luar yang dimiliki manusia. Seperti hanya duduk di atas bentangan sejadah, lalu duduk di atasnya dalam waktu singkat para Wali bisa sampai di Masjidil Haram.

Padahal pada saat itu cerita orang dari Nusantara bila ingin berhaji harus dengan menggunakan perahu mengarungi lautan Nusantara. Singgah di Malaka atau Kedah, bila diterpa gelombang tinggi dan angin kencang, kemudian bersandar dari satu tempat ke tempat lain berbulan-bulan, hingga tiba di pelabuhan Jeddah. Dari Jeddah perjalanan dilanjutkan dengan unta melewati perkampungan Baduwin, yang cukup keras dan licik.

Suku orang Baduwin dikenal sering mengambil kesempatan memanfaatkan iring-iringan calon haji untuk memperoleh penghasilan, ketika calon jamaah melewati pos-pos atau kantong-kantong peristirahatan Baduwin hingga akhirnya sampai di Makkah al Mukarramah.

Namun bisa dipastikan perjalanan haji dari Nusantara pada masa itu, mulai meningkat seiring dengan meningkatnya pusat perdagangan ekonomi di Nusantara. Perkembangan ini memberikan kesempatan baik bagi muslim di kepulauan Nusantara untuk berdagang sekaligus melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk menunaikan ibadah haji.

(Republika.co.id)

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top