Artikel

Ini Dia Para Pendiri Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah (An Nahdliyyah)

Logo+NU+-+JATMAN+HIJAU

Jalur9.com – Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah merupakan suatu sarana bagi para Mursyidin/Khalifah, untuk lebih mengefektifkan pembinaan terhadap para murid yang telah berbaiat sekaligus sebagai forum untuk menjalin ukhuwah antar sesama penganut ajaran Thoriqoh dalam rangka meningkatkan kualitas keimanan, ketakwaan dan keihlasan didalam amaliyah ubudiyyah serta meningkatkan rabithah terhadap guru Mursyid / Khalifah

Thariqah ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju   Allah SWT melalui tahapan-tahapan/maqamat. Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan.

Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath atau pondok pesantren, perguruan, atau khalaqah,

Dinamakan thariqah maksudnya menjalankan Agama Islam dengan lebih hati-hati dan teliti sebagaimana menjauhi perkara yang masih syubhat dan melaksanakan keutamaan-keutamaan sesudah kewajiban-kewajiban pokok, seperti mengerjakan sholat tahajjud dan sholat sunnat rowatib dan lain sebagainya. Disertai dengan kesungguhan dalam mengerjakan ibadah dan riyadlah, misalnya berpuasa pada hari Senin dan hari Kamis, rajin membaca Al Qur’an, membaca sholawat Nabi, dzikir, tasbih, istighfar dan lain sebagainya.

Dinamakan Al Mu’tabarah itu karena semua amalannya (thariqahnya) bersambung (muttasil) sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW. Yang mana beliau menerima dari Malikat Jibril AS. Dan Malaikat Jibril dari Allah SWT. Jam’iyah ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah didirikan di Tegalrejo Magelang 20 Rojab 1377 / 10 Oktober 1957.

Tokoh pendiri Jamiyyah Ahlith thariqah Al Mu’tabarah An Nahdiyyah ini ada dua tahap, pada mulanya Jamiyyah ini bernama Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah (tanpa An Nahdliyyah), nama ini dipakai mulai muktamar I yang diadakan di Tegalrejo Magelang.

Pemrakarsa muktamar pertama itu adalah;

1. KH Muslih Abdurrohman, Mranggen Demak Jawa Tengah

2. KH Nawawi, Berjan Purworejo Jawa Tengah

3. KH Masruhan, Mranggen Demak Jawa Tengah

4. KH Khudlori, Tegalrejo Magelang Jawatenghah

5. Andi Potopoi, Bupati Grobogan Jawa Tengah

Nama Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah digunakan mulai dari;

Muktamar I Tegalrejo Magelang Jawa Tengah 12 OKT 1957 M / 18 R. Awal 1377 H

Muktamar II Pekalongan Jawa Tengah 9 Nopember 1959 M / 8 Jumadil Ula 1379 H

Muktamar III Tulung Agung Jawa Timur 28-30 Juli 1963 M / 26-28 Shafar 1383 H

Muktamar IV Semarang Jawa Tengah 28-30 Oktober 1968 M / 4-7 Sya’ban 1388 H

Muktamar V Madiun Jawa Timur dengan istilah konggres V 24-27 Rajab 1395 H / 2-5 Agustus  1975 M

Kedua, sedang mulai Konggres  VI di Kraksaan Probolinggo sudah menggunakan nama Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah. Nama inilah yang digunakan sampai sekarang, menjelang Mukytamar ke XI.

Adapun dasar perubahan nama itu adalah Keputusan Muktamar NU ke-26 di Semarang

Keputusan NU itu dibuat berdasarkan usulan sebagian besar Tokoh Ulama’ Thariqah sendiri dengan alasan agar Jam’iyyah ini tidak dibawa-bawa kekancah politik praktis.

Hasil keputusan itu berupa penetapan bahwa NU mempunyai Badan Otonom yang namanya ; Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.

Berdasarkan keterangan ini maka disepakati bahwa Tokoh pendiri Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah adalah;

1. KH. Abdul Wahab Hasbullah, Ro’is ‘Am PBNU

2. KH. Bisri Syamsuri, Katib ‘Am PBNU

3. KH. Dr. Idham Cholid, Ketua Umum PBNU

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top