Jalur9.com, Makassar – IKA PMII Sulsel menggelar diskusi awal tahun, sabtu (14/01). Diskusi yang digelar di Wisma Pergerakan yang terletak di jalan Andi Tonro Makassar ini mengangkat tema “Konflik Timur Tengah dan Dampaknya Pada umat Islam Di Indonesia”. Hadir sebagai narasumber di antaranya Dr. Muammar Bakry, Dr. Syamsul Bahri dan Dr. Firdaus Muhammad, dengan peserta diskusi para alumni dan kader aktif PMII dari sejumlah kampus di Makassar dan Gowa.

Dr. Kadir Ahmad selaku Ketua IKA PMII Sulsel dalam sambutannya mengatakan bahwa diskusi IKA PMII Sulsel akan kembali rutin dilaksanakan, dengan mengangkat tema-tema aktual yang ada, seperti mengenai konflik Timur Tengah yang dampaknya sangat terasa di Indonesia, “Sekarang PMII sudah punya rumah sendiri, olehnya kita harus meramaikan wisma pergerakan ini dengan agenda diskusi dan kaderisasi, karena PMII adalah penjaga ajaran Islam yang damai dan penyanggah NKRI” pungkasnya.

Dr. Syamsul Bahri dalam paparannya mengungkapkan bahwa konflik di Timur Tengah adalah konflik politik, bukanlah konflik agama yang belakangan gencar diberitakan oleh media. Menurutnya konflik seperti yang terjadi di Suriah disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, “faktor eksternal adalah adanya upaya negara-negara barat dan arab untuk menguasai minyak di Suriah yang memang melimpah, sedang faktor internal adalah ketidakmampuan Basar Al-Assad menciptakan stabilitas politik yang tengah bergejolak” terang alumni Suriah ini.

Senada dengan itu, Dr. Muammar Bakry juga mengungkapkan, bahwa konflik di Timur Tengah adalah konspirasi untuk menghancurkan Islam dari dalam, lewat mereka yang memiliki pemahaman keagamaan yang awam, namun memiliki militansi yang kuat, “radikal itu bagus, bahkan sangat dianjurkan, tetapi ketika ia berubah menjadi ideologi, yaitu radikalisme atau fundamentalisme, maka ia menjadi berbahaya, karena akan mudah menuduh orang lain yang berbeda sebagai ahli bid’ah, sesat, bahkan kafir dan halal darahnya. Nah, inilah yang menjadi embrio dari terorisme”, jelas imam besar masjid Al-markas Makassar ini.

Sementara itu Dr. Firdaus Muhammad mengingatkan pentingnya mewaspadai gerakan-gerakan radikalisme yang menggunakan mesjid dan kampus sebagai pusat penyebarannya, “Kelompok-kelompok intoleran itu masuk ke masyarakat lewat mesjid dan kampus, olehnya PMII harus bekerja ekstra untuk menjadi agen Islam moderat di dua pusat kegiatan keumatan ini” tutur pengasuh Pesantren An-Nahdlah Makassar tersebut.

Laporan: Ahmad Muslimin