Artikel

Gus Dur, Kecerdasan Berbalut Kesederhanaan (Sebuah Kisah Nyata)

9822414

Jalur9.com – Suatu hari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) datang ke Grafiti Press, tempat Ismed Natsir bekerja sebagai editor. Dia tanya, “Med, ada yang bisa saya bantu, ada perlu untuk pendaftaran anak sekolah”.

“Ada Gus, membuat pengantar untuk buku.”

Gus Dur pun setuju. Ia duduk membuka-buka dan membaca draft buku. Tak terlalu lama—hanya selintasan membaca. Lalu ia minta mesin tik, dan mulailah ia menulis, tanpa tip-ex tanpa ada satu pun kalimat yang dia perbaiki. Dalam waktu tak sampai satu dua jam, pengantar redaksi untuk buku pun selesai.

Sembari dia mengetik, Ismed mengurus pembayaran. Selesai, ia pun pamit dengan mengantongi honor untuk biaya sekolah salah satu dari 4 anaknya yang akan masuk SMA.

Sore hari menjelang pulang, Ismed baru sempat membaca pengantar itu, dan ia terperangah. Pengantar redaksi yang luar biasa keren, segar, dan jenaka. Itulah pengantar “Mati Ketawa Cara Rusia”.

Cerita ini disampaikan Lies Marcoes, istri Ismed Natsir yang juga aktivis hak asasi manusia. Kisah yang diunggah di akun Fecebook pribadinya pada 9 Maret 2014 itu menunjukkan setidaknya dua hal. Pertama, canggihnya Gus Dur soal membaca sebuah karya, lalu menuangkan analisanya dalam tulisan dalam tempo yang singkat.

Kedua, tentang kesederhanaannya. Gus Dur yang di kemudian hari dipercaya sebagai presiden keempat RI bukanlah orang yang kaya raya. Sebagai cucu tokoh besar dan putra pejabat negara, ia tetap menjalani hidup dalam kebersahajaan dan mandiri: mengandalkan pontensi dan kerja kerasnya sendiri.

(Sumber: nu.or.id)

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top