Opini

Fenomena Parcel di Kampus Negeri

Gambar bandungoke.com

Beberapa hari lalu penulis sempat mendengar Curhan Hati (Curhat) salah seorang mahasiswa pasca sarjana di salah satu universitas Negeri ternama di Kota ini. Ia mengeluhkan budaya parcel yang seolah telah menjadi tradisi di kampus tersebut beberapa tahun terakhir.

Katanya, jika mahasiswa menghadap untuk berkonsultasi dan tidak membawa sesuatu, maka dosen bersangkutan merasa tak dihargai. Ironisnya, lanjut mahasiswa tersebut, ada juga dosen tidak malu menerima pemberian amplop dari salah seorang mahasiswa sebagai bentuk ucapan terima kasih.

Fenomena tersebut, mengingatkan penulis saat berkonsultasi dengan salah seorang dokter ahli di kota ini. Hanya konsul beberapa menit saja, penulis harus mengeluarkan beberapa lembar uang kertas bergambar Soekarno.

Dari segi profesi, mungkin hal itu bisa dibenarkan, karena yang bersangkutan adalah dokter ahli yang tak dibayar oleh negara, beda halnya jika itu terjadi di kampus, apalagi kampus negeri, selain dosen mendapat tunjangan dari negara, juga sudah menjadi kewajiban mereka untuk berbagi pengetahun secara gratis kepada mahasiswanya.

“Toh.. ia sudah digaji oleh negara untuk mencerdaskan manusia,” kata teman penulis saat itu.

Menurutnya, meski ada aturan atau larangan untuk memberi parcel di kampus tersebut, namun tetap saja mahasiswa itu merasa tak nyaman jika menghadap dosen tanpa membawa apa-apa.

Sementara dosen yang bersangkutan pun tak memperingatkan kepada mahasiswa bahwa apa yang ia lakuakan itu telah melanggar aturan.

Tentunya, tidak semua dosen di kampus itu bernalar parcel, hanya beberapa orang saja yang terbiasa dengan hal itu. Meski demikian, dapat diduga budaya parcel itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi, dan dilakukan secara terselubung.

Untuk kasus ini, penulis kerap kali menemukan mahasiswa menjadi korban dari kesepakatan ilegal ini. Meski mereka mengeluh, tapi terpaksa ia lakukan demi kelancaran urusannya dengan dosen yang bersangkutan.

Selain itu, penulis juga kerap menemukan seorang mahasiswa membawa hasil bumi, seperti minyak goreng, kelapa, gula merah, madu dan lainnya ke rumah, atau disisipkan di mobil sang dosen.

Fenomena ini mengingatkan penulis akan cerita tentang setoran yang dilakukan oleh orang-orang pribumi terhadap Kompeni Belanda di masa penjajahan dulu.

Mungkin bagi mahasiswa yang berpunya, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa, tapi bagaimana dengan mereka yang tak punya, yang hanya melanjutkan kuliah dengan modal kecerdasan?

Jika sikap seperti ini dianggap sebagai sesuatu biasa atau semacam sedekah, dikhawatirkan akan terjadi diskriminasi, dimana dosen akan sulit bersikap adil terhadap mahasiswanya.

Padahal kita tahu, kesuksesan perguruan tinggi (pendidikan) tidak dilihat dari seberapa besar setoran mahasiswa ke dosen, tapi dilihat dari seberapa jauh mahasiswa tersebut memahami dan mengaktualisasikan ilmu yang ia dapatkan di kampus tersebut. Sehingga citra kampus pun semakin membanggakan.

Hal ini penting menjadi perhatian, mengingat kualitas sebuah kampus dinilai dari alumninya, bukan pada seberapa banyak dan mahalnya setoran parcel jelang final atau akhir studi mereka.

Penulis: Suaib Amin Prawono
(Koordinator GUSDURian Sulawesi)

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top