Dosen Agama Unhas Nilai Pemindahan Mata Kuliah Agama Sudah Tepat

MAKASSAR – Menristek Dikti Mohamad Nasir akan memerintahkan pada seluruh rektor perguruan tinggi agar memindahkan mata kuliah umum Pendidikan Agama. Dari semula ada di semester awal menjadi di semester akhir perkuliahan.

Hal ini dinilai Nasir bertujuan untuk mengurangi pengaruh paham radikalisme dan ekstrimisme yang dikhawatirkan menjangkiti mahasiswa.

Salah satu dosen MKU Agama Unhas, Saiful Jihad mengapresiasi langkah Menristek ini. Menurutnya, langkah itu bukan berarti mengeyampingkan pendidikan agama, apa lagi menghilangkan pendidikan agama.

“Tetapi memandang, bahwa pendidikan agama semula ini yang diberikan di semester awal, justru tidak berbekas di semester akhir mahasiswa, karena seiring dengan itu, pasca mendapat pendidikan agama 2 SKS, mereka kemudian mendapat “didikan” lain dari kelompok-kelompok yang cenderung radikal, dan tidak sempat lagi diklarifikasi oleh dosen agama,” kata Saiful Jihad.

Dengan menempatkan pendidikan agama di semester VII, Saiful menyebutkan itu merupakan kesempatan bagi dosen agama untuk mengklarifikasi faham keagamaan yang mereka dapatkan di kampus, sebelum mereka menyelesaikan studi mereka.

Meski begitu, bicara tentang durasi dan jumlah SKS, bukanlah jawaban satu-satunya atas permasalahan tersebut. Faktanya, menurut Saiful, ada Perguruan Tinggi yang mengajarkan agama di setiap semester, tetapi tidak jadi jaminan, infiltrasi faham radikal masuk dalam kampus, bahkan bebas membentuk organisasi dan membuat kegiatan pengkaderan atau penanaman iduologi agama dalam versi mereka.

“Di banyak kampus, ada yang merekrut dosen agama dari jurusan-jurusan eksakta, karena dianggap dosen tersebut memiliki pemahaman agama, dan ternyata yang diajarkan adalah pemahaman keagamaan yang tekstualis, dan cenderung ke radikalisme. Itu berarti faktor rekrutmen dan standarisasi dosen pendidikan agama di PTU, penting dibenahi,” tandas pria yang akrab disapa SJ ini.

“Memang persoalannya kompleks, sementara beban yang diembankan pada mata kuliah ini terlalu besar,” tutup SJ