News

Datuk Paggentungang, Guru Syekh Yusuf yang Sembahyang di Bawah Daun Pisang

image

Jalur9.com – Di desa Tamarunang Kecamatan Somba Opu, kabupaten Gowa. Tepatnya di poros Malino 4 km dari Sungguminasa, terdapat makam ulama besar Sulawesi Selatan yang hidup pada abad ke 16. Banyak peziarah yang datang ke makam ini dari berbagai daerah. Itulah makam Datuk Ri Paggetungang.

Makamnya dikelilingi sejumlah makam lainnya yang merupakan makam keturunannya. Terdapat bangunan permanen yang menaungi makam. Luas bangunan berukuran 5 x 7 m2 berwarna putih, beratap genteng merah.

Datuk Paggentungang bernama asli Srinaradireja bin Abd. Makmur. Tapi ia lebih terkenal dengan nama I Dato (Datuk) Ri Paggentungang. Sang Wali hidup di zaman raja Gowa ke 14 I Mangarangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin, Raja Gowa yang pertama memeluk agama Islam pada hari Jumat 22 September 1660, ia diislamkan oleh Datuk Ribandang, ulama yang berasal dari Minangkabau.

Datuk Paggentungang datang ke Sulawesi untuk mencari ayahnya, Datuk Ribandang. Lalu dia diajak sahabatnya, Lo’mo Ri Antang untuk menetap di daerah ini, agar bisa bersama-sama melanjutkan tugas Datuk Ribandang yang telah Wafat.

Ketinggian ilmu I Datuk Paggentungang melegenda di kalangan pecinta ulama ini. Menurut H.Majja, sang penjaga makam Datuk Paggentungang, pernah suatu waktu seorang ulama datang menemui Datuk, setelah keduanya selesai mengobrol tibalah waktu shalat.

Saat itulah ada kejadian yang tak lazim saat keduanya melaksanakan shalat. Ulama itu sembahyang di atas daun pisang, sedangkan Datuk justereu sembahyang di bawah daun pisang.

Datuk menyebarkan agama Islam di kerajaan Gowa-Tallo dengan memberikan wejangan dan nasihat kepada masyarakat. Datuk bersama sahabatnya I Lomo Ri Antang, tidak bisa dipisahkan dalam hal penyebaran agama Islam dikerajaan Gowa-Tallo sepeninggal Datuk Ri Bandang.

Guru Syekh Yusuf Al Makassari

Sebelum Syekh Yusuf Al Makassari berangkat ke Mekah, lebih dulu ia memperdalam ilmunya pada Datuk Paggentungang dan Lo’mo. Di dua ulama tersebut, Syekh Yusuf muda belajar ilmu hakiki.

Satu waktu, Datuk Paggentungang sepakat dengan Lo’mo bertemu Syekh Yusuf, untuk merencanakan perjalanan memperdalam ilmu pada wali-wali yang ada di Makassar.

Dilansir dari bugisposonline.com, Datuk Paggentungang berkata ; “Cucunda Yusuf, saya sudah dengar kesempurnaan ilmumu. Tapi biarpun begitu, baiknya kita bertiga mengunjungi dan menuntut ilmu pada wali-wali di tanah Mangkasarak” jawab Yusuf, baiklah kalau nenek menghendakinya.

Setelah persediaan sudah cukup, dan ditetapkan waktu yang baik, perjalanan pun dimulai. Pertama mereka menuju gunung Bulusaraung. Dari sana mereka lanjut ke gunung Latimojong, kemudian langsung menuju ke gunung Bawakaraeng. Di gunung Bawakaraeng, mereka bertemu dengan wali-wali. Lalu Yusuf wali-wali ; “Hai, Yusuf, sudahkah engkau dari gunung Bulusaraung dan Latimojong, lalu engkau tiba disini ?” Yusuf menjawab “Benarlah demikian sudah semua saya kunjungi. Sekarang saya berharap dianugrahi ilmu barang sedikit”.

Dan belajarlah ketiga ulama itu kepada wali-wali tersebut. Tiada berapa lama, maka sepakatlah wali-wali dan berkata : “Cukuplah sudah ilmu pengetahuanmu di tanah Mangkasarak, dan sebaiknya kamu berkunjung ketanah suci, naik haji untuk menguji tentang kecukupan ilmumu itu dan menguji pendapatmu”. Selesai wali-wali itu berkata, maka ketiganya mohon diri pulang ke negeri Gowa. (zardi/Zul)

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top