News

Bahas ‘Wajah Terlarang’, Prof Nurhayati : Perempuan Indonesia Wajib Baca Buku ini !!

IMG-20170922-WA0023

MAKASSAR – Prof Nurhayati tampil menjadi pembicara bedah buku ‘Wajah Terlarang’, di aula Prof Mattuladda Unhas, Jumat (22/9).

Di depan ratusan mahasiswa, ia memaparkan tentang isi buku yang menceritakan tentang kisah haru perempuan Afghanistan bernama Latifa, tentang kehidupan di Kabul sebelum dan ketika dikuasai rezim Taliban.

Diskusi ini digelar Gusdurian Makassar bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin dan PMII Unhas.

“Buku tersebut merupakan sebuah tulisan yang berisi catatan seorang perempuan yang menjadi korban dari rezim Taliban dan gerakan ekstremis di negaranya,” kata Fadlan selaku moderator diskusi.

Sementara itu, Pakar Budaya Unhas Prof Nurhayati mengapresiasi buku yang sudah dicetak dua kali itu. Menurutnya, buku Wajah Terlarang ini wajib dibaca oleh publik, terutama kalangan perempuan.

“Buku ini wajib dibaca perempuan. Harus dibaca perempuan indonesia. Betapa beruntungnya perempuan indonesia, di belahan lain ada perempuan hidup menderita. Seperti dalam kisah Latifa di Afghanistan. Kalau perlu buku wajib bagi perempuan,” ujar prof Nurhayati.

Buku Wajah Terlarang merupakan buku terjemahan dari “My Forbidden Face”, ditulis oleh Latifa seorang wanita Afghanistan.

Buku tersebut diterbitkan secara bersamaan dengan dua buku lain yang juga berisi catatan-catatan tentang faham dan gerakan radikalisme, yaitu Para Perancang Jihad” dan “Pengakuan Pejuang Khilafah”.

Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh Gading Publishing yang didukung oleh Yayasan LKis Yogyakarta dan Infid.

Diskusi buku ini dilaksanakan di Aula Prof Matulada UNHAS dengan
menghadirkan Prof. Nurhayati Rahman dan Supratman, sebagai narasumber yang dimoderatori oleh M. Fadlan L Nasurung.

“Target peserta dalam diskusi ini adalah mahasiswa dan akademisi kampus umum serta masyarakat umum di Makassar dengan tujuan untuk mengantisipasi dan meredam faham dan gerakan radikalisme,” jelas Hairus Salim, direktur Penerbit Gading.

Ia menambahkan penerbitan dan inisiatif diadakannya diskusi buku tersebut berangkat dari kegelisahan atas fenomena tumbuhnya faham radikalisme di kalangan mahasiswa dan akademisi kampus umum di Indonesia.

Oleh karena itu penerbit Gading bekerjasama dengan beberapa kampus umum termasuk Unhas untuk menyelenggrakan diskusi buku tersebut.

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top