News

Bacaan Basmalah Wajib Saat Membaca Al-Qur’an

FB_IMG_1466358842682_1466359553320


Oleh

Mahmud Suyuti

Ketua PW MATAN Sulsel

(Catatan Peringatan Malam Nuzulul Qur’an 17 Ramadan)

Setiap 17 Ramadan, umat Islam memperingati hari bersejarah yang disebut nuzul Qur’an, yakni peristiwa diturukannya Al-Qur’an, momen pertamakali Nabi Muhammad saw menerima wahyu Al-Qur’an.

Diriwayatkan bahwa para sahabat Nabi saw, khususnya juru tulis Al-Qur’an, Zaid bin Tsabit selalu konsen beribadah pada malam 23, 25 dan 27 Ramadan, namun tidak seperti ketika  beribadah pada malam ke-17 Ramadan. Lalu ditanya mengapa engkau justru lebih berkonsentrasi penuh pada malam 17 ? Zaid menjawab, karena pada malam itu adalah Nuzul Qur’an dan paginya dipisahkan antara yang haq dan yang batil (HR. Thabrani).

Nuzul dalam bahasa Arab merupakan mashdar (kata benda) berasal dari kata nazala, yanzilu, nuzulan yang secara tekstual berarti turun, hinggap, dan jatuh. Secara kontekstual, nuzul berarti turun dari ketinggian. Nuzul Qur’an, adalah diwahyukan Al-Qur’an dari tempat ketinggian (Lauhul Mahfudz) dan Nabi saw menerimanya.

Wahyu Al-Qur’an terdiri atas 114 surah diturunkan sekaligus secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia dan kemudian selama 23 tahun lamanya diturunkan melalui proses munajjaman (secara bertahap, berangsur-angsur) ke bumi sesuai kebutuhan untuk menjawab realitas yang terjadi di dunia.

Dengan cara bertahap pula, Jibril as sebagai pengantar wahyu berulang-ulangnya datang membawa wahyu, praktis hati Nabi saw merasa tenang, nyaman, jiwanya segar, sebab terjadi lagi kontak batin dengan Allah. Di sisi lain, diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur maka sangat memudahkan para sahabat untuk menghapalnya.

Setiap Nabi saw menerima wahyu, setiap itu pula disampaikan kepada para sahabatnya, lalu mereka menghapalnya secara utuh dan setiap waktu Nabi saw mengadakan chek in richek hapalan mereka, lalu diperintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk menulis dan mendokumentasikan Al-Qur’an secara utuh. Inilah yang disebut dalam Ilmu Tafsir dengan istilah jam’ul qur’an wa kitabatuh, yakni mengumpulkan Al-Qur’an dengan cara menghapal dalam lubuk hati dan menuliskannya pada alat-alat yang tersedia untuk dijadikan rujukan utama.

Sarana prasana penulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang tersedia saat itu cukup sederhana, antara lain adalah raqq, qirthas, suhuf dan al-qalam. Raqq, sejenis kertas kulit atau perkamen yang terbuat dari kulit binatang. Qirthas saat itu pengertiannya mengacu pada daun lontar dan pelepah kurma. Suhuf atau sahifah, lembaran yang terbuat dari bahan tertentu untuk menulis. al-Qalam, identik dengan pena sebagai alat utama dalam tulis-menulis.

Setiap penulisan satu surah dari Al-Qur’an, Nabi saw memberi nama kepada surah itu dan nomor urutnya sebagai tanda yang membedakan dengan surat yang lain, sehingga tersusunlah Al-Qur’an yang dimulai dari Surah al-Fatihah. Bukan dimulai iqra atau surah al-Alaq.

Setiap penulisan awal surah, Nabi saw diberi petunjuk oleh Allah untuk meletakkan basmalah, sehingga bacaan bismillahir rahmanir rahim merupakan ayat yang harus dibaca setiap permulaan surah. Basmalah merupakan kalimat yang pertamakali diajarkan kepada setiap muslim, dan basmalah merupakan doa pamungkas untuk memulai suatu pekerjaan.

Tidak membaca basamalah pada setiap awal surah, apalagi pada al-Fatihah saat salat berarti menghilangkan satu ayat dari al-Qur’an dan tentu saja salat demikian tidak diterima karena tanpa basmalah.

Momen Nuzul Qur’an sesungguhnya, memperingatkan agar Al-Qur’an harus dijaga keorisinilnnya, harus dibaca secara lengkap, jangan dipenggal-penggal atau dibuang sebagian ayatnya karena hal itu termasuk tindakan korupsi terhadap ayat-ayat suci.

Momen Nuzul Qur’an sesungguhnya yang telah mentradisi di tengah-tengah masyarakat muslim, mengingatkan agar ummul Qur’an (intisari ayat-ayat Allah), yakni surah al-Fatihah harus dibaca secara lengkap sebagai sab’ul matsani, tujuh ayat dibaca berulang-ulang secara lengkap. Jika basmalah tidak dibaca, berarti hanya enam ayat saja.

Kitab Tarikh al-Bukhari menyebutkan, Raway annahu Shallallahu Alayhi Wasallam ‘addal fatihat sab’a ayat wa ‘udda bismillahir rahmanir rahim minha (diriwayatkan bahwa Rasulullah saw suatu ketika menghitung ayat al-Fatihah dan jumlahnya ada tujuh ayat, termasuk basmalah.

Implementasinya, sungguh tidak adil jika seseorang membaca Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Arrahmanir Rahim,… secara jahar (besar) lalu ayat awalnya, basamalah dibaca secara sir (kecil) atau dibaca dalam hati, apalagi jika tidak baca sama sekali.

Dijelaskan dalam riwayat bahwa sahabat Anas bin Malik selalu mendengar bacaan basmalah dari Nabi saw secara jahar (jelas kedengaran). Aisyah menyatakan sir (tidak begitu jelas), dan fulan bin fulan berkata tidak mendengar.

Dari segi sensehistorisnya, Anas di setiap waktu salat selalu berdiri pas di belakang Nabi saw sehingga mendengar bacaan al-Fatihah secara lengkap dan jelas. Aisyah, istri Nabi saw seorang perempuan, kalau salat berada di saf terbelakang dari laki-laki dan saat itu belum ada pengeras suara, sehingga wajar jika mendengarkan bacaan Nabi saw secara sir.

Lain halnya dengan Fulan bin fulan, adalah salah seoang sahabat yang sering masbuk, terlambat datang ke mesjid. Jadi saat sahabat ini ditanya apakah anda mendengar Nabi saw baca basmasalah saat salat terutama Magrib, Isya dan Subuh ? jawabannya tidak mendengar karena sahabat ini masbuk alias telat, Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq. 

Editor: Fadlan

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top