News

Apa Itu Habib?

FB_IMG_1466358842682_1466359553320

Oleh

Mahmud Suyuti

Ketua PW MATAN Sulsel

Habib (حبيب) berarti yang dicintai, disenangi, kekasih dan yang dikasihi. Jika didahului huruf alif dan lam (al-habib/الحبيب) maka dinisbatkan kepada Nabi saw dan belakangan ini laqab (gelaran) tersebut dikhususkan juga untuk keturunan Nabi saw.

Jika keturunan Nabi saw tersebut perempuan, lazimnya disebut habibah, yang boleh dikata bahwa turunan Nabi saw secara biologis (diistilahkan zurriyah) sebagai nasab yang termulia.

Jamak dari habib adalah habaib yang padanya mengalir tetesan darah kenabian secara turun temurun sehingga mencintai dan menyayanginya (tanda petik) merupakan kemestian. Turunan ini asal muasalnya secara nasab dari Sayyidatina Fatimah al-Zahrah bin Muhammad saw.

Fatimah menikah dengan Ali yang berputra dua, Husain dan Hasan. Lalu jika mucul pertanyaan bahws dua putra tersebut bukan dengan nasab Fatimah melainkan Ali sebagai bapak sbab bapak/ayah sbg pembawa bibit dan ibu sebagai wadah, ya benar saja adanya. Namun ada pengecualian, karena Nabi saw memberi garansi melalui hadisnya “semua nasab itu dari laki-laki, kecuali nasabku dari Fatimah putriku”. Dari keturunan Hasan menebar pada Syekh Abd. Qadir Al-Jailani, sedangkan dari Husein yang banyak tersebar terutama di Indonesia berasal dari Hadramaut yang identik degan fam-nya atau marganya masing-masing, sperti:

al-Saqqaf/Assegaf, Alawiy, al-Aydrus, Shahab/Shihab, al-Qutban, al-Musawa, al-Fakhir, al-Hamid, al-Humaid, al-Kaf, Bafagih, ba’bud, ba’alwi, ba’salamah, Bajned, al-Attas, al-mahdali dan banyak lagi, mereka ini disapa dengan habib.

Ditegaskan dlm QS. al-Ahzab/33: 5.

  ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقَسَطُ عنْدَ الله 

Artinya: Sapalah mereka dengan berdasarkan nama keturunan ayah mereka, itulah lebih adil di sisi Allah.

Sapaan itu slain sebagai simbol penghormatan, maka khusus untuk habib keturunan Nabi saw jg sbg simbol kemuliaan. Khusus untuk suku bugis Makassar, turunan yang dihormati dan mendapat kedudukan mulia di tengah-tengah masyarakat disapa dengan Karaeng, daeng (Makassar) atau puang, petta (Bugis). 

Manusia memang sama tapi kenyataannya berbeda-berbeda dari kedudukannya dalam strata sosial. Sesama manusia harus saling menghargai dan menghormati, tetapi kedudukannya yang paling tinggi di sisi Allah adalah mereka yang paling bertakwa. 

Banyak bulan, tetapi yang termulia adalah Ramadan dan di dalamnya ada malam termulia yakni lailatul qadri. Demikian pula hari-hari, yang termulia adalah hari jumat.

Banyak padi, tetapi ada ragam dan porsi yang paling disukai dan diminati, jika jadi beras maka harganya pun berbeda. Beras yang kualitas tinggi lazimnya dikonsumsi oleh orang yang berada pula, sedang beras biasa dimakan oleh orang-orang biasa pula. Ini terjadi karena perbedaan harga dan kualitas. 

Banyak malaikat, tetapi tidak sama kemuliaannya di sisi Tuhan. Jauh berbeda kemuliaan malaikat Mikail, israfil, Izrail dll ketimbang Jibril misalnya. 

Demikian halnya banyak nabi dan Rasul tetapi yang termulia adalah Nabi/Rasulullah Muhammad saw. Itulah sebabnya sapaan kepada Nabi saw, sebaiknya menggunakan sayyidina. 

Untuk menyapa turunannya dengan habib sama halnya menghormati, mencintai dan memuliakan leluhurnya (Nabi saw) secara pantas, yang tentu saja mendapat nilai plus. Selain sapaan habib dalam konteks lain degan mengikutsertakan fam/marganya lebih akrab degan sebutan sayyid (laki-laki)-sayyidah (perempuan), syarif (laki-laki)-syarifah (perempuan).

Terlepas dari kemuliaan-kemuliaan tersebut, yang jelas saya atas nama Mahmud Suyuti memastikan diri sebagai keturunan Nabi dan kita semua tentunya harus sama-sama mengakui sebagai keturunan Nabi. Nabi siapa? Yah Nabi Adam as! Kecuali tetangga sebelah yang menganut teori Darwin, tentu saja mereka keturunan kera. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq.

(Fad)

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top