News

AMI: Penjaga Kebhinekaan Bangsa

unnamed (2)
Hari Yulianto, Dosen STIE YPUP

AMI: Penjaga Kebhinekaan Bangsa
Harry Yulianto
Akademisi STIE YPUP Makassar

Tantangan besar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia kedepan diantaranya adalah disintegrasi dan degradasi nilai moral maupun etika. Bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku, budaya, adat, tradisi, agama, maupun aliran kepercayaan. Selain itu, secara geopolitik letak Indonesia sangat strategis, dan memiliki potensi sumberdaya alam yang melimpah. Namun, di jaman now, dengan adanya dinamika perkembangan informasi, teknologi, dan infiltrasi ideologi yang menyimpang dari filosofi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), apabila tidak diantisipasi dengan bijak dan smart dapat menimbulkan kegaduhan, bahkan dapat mengancam disintegrasi NKRI.
Sebagai bangsa yang besar, Indonesia sudah menunjukkan jati dirinya sebagai bangsa yang disegani di pentas dunia internasional. Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, dengan berbagai dinamikanya pada masing-masing periode kepemimpinannya, terlepas ada berbagai kekurangannya. Namun, di jaman now Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu merespon dinamika perkembangan jaman secara proaktif dan smart.
Sejumlah lembaga survei menyatakan sebagian besar rakyat Indonesia merasa puas dengan kinerja pembangunan Jokowi, diantaranya: Kompas (21/20/2017) menyebut 70,8% responden puas dengan kinerja Jokowi, SMRC (5/10/2017) tiga tahun pemerintahan Jokowi kepuasan publik capai 68%, Indikator Politik Indonesia (11/10/2017) 60,39% responden puas dengan kinerja Jokowi, CSIS (12/9/2017) kepuasan publik pada pemerintahan Jokowi meningkat di 2017 sebesar 68,3%, serta lembaga survei lainnya. Tentu saja, hasil yang sudah dirilis oleh lembaga survei tersebut dengan menggunakan pendekatan dan kaidah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan akademis kepada publik.
Salah satu janji kampanye Jokowi adalah membangun Indonesia dari pinggiran, yang diwujudkan dalam Nawacita ketiga. Pembangunan bukan lagi berorientasi pada perkotaan dan Jawa sentris, namun sudah merata ke berbagai wilayah lain di Indonesia. Hal tersebut diwujudkan dengan kerja nyata mulai dari Sabang sampai tanah Papua. Dan, hasilnya secara nyata dapat dinikmati oleh rakyat Indonesia, Namun, tanpa menafikan masih adanya kekurangan pada beberapa sektor, karena ada pembangunan yang hasilnya baru dapat dinikmati oleh rakyat Indonesia dalam jangka panjang kedepan.
Di era mendatang, dengan berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia, diperlukan sosok pemimpin dan pendampingnya yang mampu menjawab dinamika tantangan kedepan, tanpa melupakan jati diri Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Sampai saat ini, baru dua kandidat yang diprediksi untuk maju menjadi calon presiden 2019, Jokowi dan Prabowo.
Lembaga survei PolMark menempatkan Jokowi dengan nilai popularitas (96,5%) dan elektabilitas (41,2%) tertinggi jika pemilihan presiden dilaksanakan sekarang (1/11/2017). Sedangkan, Prabowo dengan nilai popularitas 91,9% dan elektabilitas 21%. Apabila mayoritas rakyat Indonesia masih memberikan kepercayaan kepada Jokowi untuk melanjutkan pembangunan kedepan (dengan berdasarkan hasil kinerja nyata dan hasil survei opini publik), lantas siapa sosok yang pantas menjadi pendampingnya?
Dari berbagai tren hasil lembaga survei menunjukkan bahwa sosok yang dianggap layak untuk mendampingi Jokowi kedepan setidaknya memiliki beberapa kriteria: nasionalis, religius, santun, berjiwa muda, merakyat, smart, sederhana, visioner, diakui pada level internasional, berdedikasi, berpengalaman, memiliki kompetensi, loyal pada pimpinan, memiliki kesamaan chemistry, tidak berpotensi menjadi matahari kembar di pemerintahan, tidak menuai banyak kontroversi. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah mampu menyejukkan dan menjaga kebhinekaan serta ideologi Pancasila.
Diantara beberapa nama yang sudah muncul ke publik, salah satunya adalah Abdul Muhaimin Iskandar (AMI) atau yang biasa dikenal dengan sebutan Cak Imin. Nama Cak Imin mendadak diperhitungkan sebagai kandidat calon kuat pendamping Jokowi 2019. Lingkar Madani memprediksi Cak Imin memiliki potensi lebih besar mendampingi Jokowi dibandingkan lainnya (12/10/2017).
Publikpun bertanya siapa Cak Imin itu? Karena publik masih banyak yang belum mengenal siapa Cak Imin. Ketokohan Cak Imin memang sudah tidak perlu diragukan lagi di level nasional bahkan internasional. Namun, publik masih ada yang belum mengenal tokoh sekelas Cak Imin, dan tiba-tiba masuk lingkaran sebagai calon kuat pendamping Jokowi kedepan.
Abdul Muhaimin Iskandar yang lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 24 September 1966 merupakan cucu dari pejuang dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Bisri Syansuri. Semangat dan perjuangan Muhaimin Iskandar yang selalu mendahulukan kepentingan persatuan dan kesatuan bangsa merupakan cerminan spirit yang diturunkan dari KH. Bisri Syansuri kepada generasinya.
Dari beberapa kriteria sosok yang dianggap layak untuk mendampingi Jokowi 2019, figur Abdul Muhaimin Iskandar yang memiliki semua kriteria tersebut. Dengan berbekal pengalaman mulai dari politisi (Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa periode 2005-sekarang), eksekutif (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi periode 2009-2014), legislatif (Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat periode 1999-2004 dan 2004-2009), sampai aktivis (Ketua Umum PB PMII periode 1994-1997).
Sebagai nahdliyin, Abdul Muhaimin Iskandar secara visioner telah membangkitkan tradisi kalangan santri dengan menginisiasi Nusantara Mengaji maupun Musabaqoh Kitab Kuning. Juga, sering melakukan silahturahmi kepada ulama sepuh untuk merajut persatuan dan kebersamaan. Yang tidak kalah pentingnya adalah perjuangannya dalam penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, sebagai bukti pengakuan negara atas jasa ulama dan santri dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan NKRI.
Abdul Muhaimin Iskandar telah menunjukkan figur sebagai penjaga kebhinekaan bangsa Indonesia. Sebagai penganut Islam, Abdul Muhaimin Iskandar tidak menanamkan dikotomi pada mayoritas dan minoritas. Namun, lebih menyejukkan dengan membumikan Pancasila dan menawarkan konsep Islam Rahmatan Lil Alamin.
Sejumlah kriteria pendamping Jokowi 2019, telah ada pada diri Abdul Muhaimin Iskandar. Namun, yang tidak kalah penting adalah adanya figur penjaga kebhinekaan bangsa yang pada periode mendatang sangat dibutuhkan untuk semakin merekatkan kemajemukan bangsa Indonesia di tengah-tengah ancaman disintegrasi dan degradasi nilai moral maupun etika terhadap generasi milenial Indonesia. Siapa lagi kalau bukan AMI yang dapat menjaga kebhinekaan Indonesia di era bonus demografi. Semoga terwujud pasangan Jokowi-AMI dalam menghadapi dinamika tantangan bangsa Indonesia ini kedepan.

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top