News

5 Fakta Kyai Nasaruddin Umar Yang Jarang Orang Ketahui

21272452

Jalur9.com – Satu lagi tokoh Sulsel yang menjadi tokoh nasional, Kyai Nasaruddin Umar terpilih untuk menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal,  Berikut data tentang Kyai Nasrudin Umar  Ini 5 ulasannya

1. Nyantri di As’adiyah Sengkang

Prof. Dr. Nasarudin Umar merupakan tokoh Muslim yang lahir di Ujung Bone, Sulawesi Selatan pada 23 Juni 1959. Beliau pernah mengenyam pendidikan di Pesantren As’adiyah, Sengkang, Sulawesi Selatan.

Pesantren ini didirikan seorang ulama asal Indonesia yang lahir di Mekah, yaitu Haji Muhammad As’ad yang juga dikenal dengan panggilan Anregurutta Pungngaji Sade atau Gurutta Aji Sade, seperti dikutip. Pesantren ini didirikan saat Gurutta Aji Sade berusia 21 tahun sepulangnya dari Mekah.

Cikal bakal pesantren As’adiyah sudah ada sejak tahun 1928 M atau 1347 H. Sebagaimana ulama Jawa, Gurutnya As’ad juga belajar pada ulama-ulama Haramain pada masanya, seperti Syekh Umar Hamdan, Syekh Said Yamani, Syekh Nazirin, Syekh Jamal Aliki, Syekh Hasan Yamani, Syekh Abdul Jabbar, dan lain sebagainya. Nasarudin Umar nyantri di pesantren As’adiyah sekitar tahun 70-an.

2. Mengenyam Pendidikan di UIN

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Pesantren As’adiyah, pria kelahiran Ujung Bone, Sulawesi Selatan ini, melanjutkan studinya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Ujung Pandang pada tahun 1980-an, dan lulus mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa teladan di Fakultas Syariah IAIN Alauddin tersebut.

Setelah itu, beliau melanjutkan studi S2 dan S3-nya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jenjang S2-nya diselesaikan pada tahun 1992, sementara jenjang S3-nya diselesaikan pada tahun 1994. Beliau menulis disertasi tentang Perspektif Gender dalam Alquran, dan dinobatkan sebagai alumni terbaik oleh pihak IAIN Jakarta.

3. Kunjungan Riset

Selama menempuh pendidikan doktor, beliau sempat mendapatkan beasiswa visiting student di beberapa universitas ternama di luar negeri, di antaranya Mc Gill University, Kanada, pada tahun 1993-1994, Leiden University, Belanda, pada tahun 1995, dan mengikuti Sandwich Program di Paris, Prancis, pada tahun 1995, seperti dikutip Ptiq.ac.id.

Setelah mendapatkan gelar doktoral, beliau pernah menjadi sarjana tamu di Shopia University, Tokyo (2001), sarjana tamu di Saos University of London (2001-2002), dan pada tahun 2002 dikukuhkan sebagai Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, seperti dikabarkan Wikipedia.

4. Kenapa Setiap Alumni UIN Rata-rata Dicap Liberal?

Imam Besar Masjid Istiqlal sebelumnya, Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub memang tidak pernah sama sekali mengenyam pendidikan di perguruan tinggi di Indonesia, kecuali Universitas Hasyim Asy’ari, Jombang. Setelah itu, beliau menyelesaikan pendidikann di Riyadh, Arab Saudi dan Hyderabad, India. Sementara, pendidikan Prof. Dr. Nasarudin Umar dari S1 hingga S3 diselesaikan di IAIN (UIN).

Beberapa “tokoh” yang sering menyerang UIN sebagai sarang Liberal, Syiah, adalah Hartono Ahmad Jaiz melalui situsnya Nahimunkar.com, dan situs lain seperti Voa-Islam.com, Nugarislurus.com. Bantahan-bantahan tersebut sudah pernah diliris di antaranya dalam beberapa artikel Masih Menuduh UIN Sarang Liberal? Baca 5 Fakta Ini dan 5 Bantahan untuk Buku “Ada Pemurtadan di IAIN/UIN”.

5. Tulisan-tulisan Imam Besar yang Baru Dilantik

Pria yang pernah menjabat pernah Wakil Menteri Agama ini belakang lebih sering menulis tema-tema terkait tasawuf di Republik.co.id. Bahkan tulisan-tulisan beliau memiliki ruang tersendiri dengan hastag #Kolom Nasarudin Umar.

Isu-isu beliau bagian dari tokoh-tokoh liberal memang sudah lama diwacanakan sejak tahun 2009-an. Namun isu lama itu mulai diangkat kembali. Karenanya, tuduhan-tuduhan Liberal, Syiah, Wahabi dari beberpa media online janganlah mudah dipercaya.

Bila ingin mengetahui betul sosok seorang tokoh, baca dan pelajarilah karya-karyanya. Bila tidak setuju, bantahlah dengan argument-argumen yang memadai. Jangan malah menuduh yang tidak-tidak tanpa argument yang kuat. Biasanya orang yang mudah memvonis orang lain itu karena kalah bacaan dan takut untuk berdebat secara ilmiah. Agar lebih mudah memprovokasi masyarakat, dicarilah jalan pintas dengan cara menyesatkan orang lain karena pemahaman tertentu yang sebetulnya debatable.

Penulis : Ibnu Kharish | Datdut.com

 

Komentar Pembaca

SPACE IKLAN

POPULER

SPACE IKLAN
To Top